Warga Maybrat yang mengungsi. Dok. Tim Koalis Masyarakat Sipil Peduli Mengungsi Maybrat. Via Jubi

Pengungsi asal Maybrat, Papua Barat yang tersebar di sejumlah tempat hingga ke kabupaten tetangga mengalami kesulitan memperoleh bahan pangan. Advokat HAM Papua yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Pengungsi Maybrat, Yohanis Mambrasar mengatakan kondisi ini disebabkan oleh pemerintah daerah yang kurang memberikan perhatian kepada para pengungsi.

Mereka tidak diurus sama pemerintah. Jadi ke sini-sini mereka kekurangan pangan, mereka mengalami sakit, dan bahkan meninggal. Jadi kondisinya semakin buruk,” kata Yohanis kepada Hakasasi.id, Rabu (15/12).

Sejak terjadinya kontak senjata antara aparat dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, di Kisor, September lalu, warga Aifat Selatan, Aifat Timur Jauh, Aifat Timur Tengah, dan Aifat Selatan mengungsi ke sejumlah tempat.

Data koalisi menyebut 3.121 warga mengungsi ke Ayawasi, Kumurkek, Fategomi, wilayah hutan di sekitar Maybrat, juga ke kabupaten dan kota tetangga, seperti Sorong, Sorong Selatan dan Teluk Bintuni. Namun, menurut Yohanis, warga mengungsi paling banyak di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong. 

Yohanis menyebutkan pengungsi di Ayawasi, Kumurkek, dan Sorong yang kesulitan memperoleh bahan pangan. 

Selain itu, Yohanis menyebut setidaknya sudah ada sembilan warga yang meninggal saat mengungsi.

Sementara itu, Komnas HAM Papua juga sempat mendampingi warga Kisor untuk melihat kondisi kampung mereka mereka,10 Desember lalu. Seperti diberitakan Kompas.com, sebagian rumah-rumah warga mengalami kerusakan pasca kontak senjata. Setelah kunjungan, warga kembali ke tempat pengungsian.