Warga Suru-Suru yang mengungsi ke dalam hutan. Dok. Istimewa

Mendekati Natal ribuan warga Distrik Suru-Suru, Yahukimo, Papua masih tinggal di pengungsian. Pengungsian ini terjadi sejak rangkaian kontak senjata antara aparat dengan Tentara Nasional Pembebasa Papua Barat (TPNPB), November lalu. 

Rohaniwan Gereja Kemah Injil (Kingmi) Yahukimo, Pendeta Lamberth Passe mengatakan pasca kontak senjata, warga Suru-Suru mengungsi ke sejumlah tempat berbeda, seperti ke Distrik Musaik, Distrik Obio, dan Kabupaten Asmat. Namun, yang paling banyak, menurut ketua koodinator Gereja Kingmi  tersebut, pergi ke wilayah hutan-hutan di Distrik Suru-Suru.  

Lamberth tidak bisa menyebut jumlah pasti warga yang mengungsi. Tapi berdasarkan data umat gereja di distrik tersebut, setidaknya ada sekitar tiga ribu warga yang mengungsi.

Lamberth mengatakan warga yang mengungsi ke hutan membutuhkan bantuan seperti kelambu. Hal ini sangat dibutuhkan warga untuk menghalau gangguan serangga, karena mereka terpaksa tinggal di daerah dekat rawa.

Sementara itu, Lamberth mengatakan berdasarkan informasi yang dihimpunnya warga yang tinggal di hutan bertahan hidup dengan mengandalkan panganan sagu. 

Kontak senjata di Suru-Suru terjadi sejak November lalu. Akibat kontak senjata ini korban jatuh baik di kalangan warga, aparat, dan TPNPB. 

Pada 23 November pihak militer sempat mengatakan TPNPB sempat menguasai distrik tersebut. Hanya saja, aparat kembali menguasai distrik tersebut mendekati penghujung November.