Konferensi Pers Seruan Moral Pastor, Jayapura. Dok. Jubi

Para rohaniwan meminta agar pemerintah membuka pintu dialog bagi kelompok yang mendesak kemerdekaan Papua untuk meredakan kondisi di Bumi Cendrawasih.

Sebanyak 194 pastor Katolik Papua menyuarakan seruan moral terkait keadaan terkini di Bumi Cendrawasih. Salah satu poin yang disampaikan para pastor tersebut adalah gencatan terkait konflik senjata antara TNI-Polri dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang melanda di sejumlah tempat di Papua. 

“Mendesak semua kubu yang berperang, yaitu TNI/Polri dan TPN/OPM agar segera mengadakan gencatan/jeda senjata kemanusiaan,” bunyi seruan berjudul ‘Seruan Moral Pastor Katolik Se-Papua Demi Kemanusiaan, Keadilan, Kebenaran, dan Keselamatan Hidup Orang Asli Papua di Atas Tanah Leluhurnya’ yang dipublikasikan Kamis (11/11).

Selain seruan gencatan senjata, para pastor juga menyerukan agar pemerintah membuka dialog bagi pihak yang mendukung kemerdekaan Papua, United Liberation Movement For West Papua (ULMWP).

Seruan moral ini juga disuarakan untuk menyudahi kekerasan yang kerap dilakukan aparat kepada penduduk asli. “Hargailah OAP (Orang Asli Papua), pemiliki Tanah Papua.  Kalian hidup serta makan dan minum di atas tanah orang Papua lantas kalian bertindak kejam terhadap kalian sebagai saudara sendiri. Apa kiranya upah yang kalian cari?” bunyi seruan tersebut. 

Kondisi Papua memang memanas beberapa waktu belakangan. Salah satunya konflik bersenjata di Intan Jaya akhir Oktober lalu yang masih berlanjut hingga November ini. Rentetan konflik bersenjata tersebut telah memakan korban dari kalangan warga sipil, TNI-Polri, dan juga TPNPB. 

Dua anak juga tertembak dalam kontak senjata di Intan Jaya. Nopelinus Sondegau, balita berusia dua tahun tewas tertembak akibat peluru yang menembus perut. Yoakim Majau, anak berusia enam tahun turut menjadi korban hanya saja selamat dari tragedi tersebut. 

Konflik bersenjata juga terjadi di tempat lain, seperti di Kabaupaten Pegunungan Bintang, Puncak, dan juga Maybrat.