Foto: Liputan 6

Oleh : Louis Kabak

Intan Jaya kembali memanas dengan perang antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan TNI-Polri. Kondisi ini bukan yang pertama kali terjadi di kabupaten tersebut.

Bara di Intan Jaya terjadi setidaknya sejak 2019 dan mengakibatkan begitu banyak warga mengungsi.

‘Buah’ dari peperangan yang paling keji oleh negara melalui militer adalah tewasnya nyawa Pendeta Jeremia Zanambani yang merupakan seorang tokoh intelektual gereja yang selalu berpihak pada rakyat Papua, akhir 2020 lalu.

Kekejaman militer Indonesia tidak berhenti sampai disitu. Selain kematian Pendeta Zanambani, pada Februari 2021 lalu tiga pemuda Intan Jaya yang dilabelisasi terkait dengan TPNPB diketahui tewas dibunuh aparat di sebuah puskesmas di Sugapa.

Sementara yang terbaru tewasnya balita berumur dua tahun pada akhir Oktober lalu akibat kontak senjata di wilayah Sugapa.

Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan beberapa kasus dari banyaknya kekejian militer Indonesia terhadap rakyat bangsa Papua di Intan jaya. 

Pengerahan Aparat Untuk Sumber Daya Alam

Bukan suatu rahasia, kajian Greenpace, YLBHI, Kontrass, WALHI, LBH Papua dan lainnya mengungkapkan fakta bahwa petinggi negara terlibat dalam investasi di Blok Wabu Intan Jaya. 

Kajian ini menyebut dugaan salah satu nama yang terlibat adalah pejabat pemerintah, yakni Luhut Binsar Panjaitan. Menyikapi hal ini, Luhut membantah tuduhan bahwa dirinya main dalam proyek Blok wabu. Luhut bahkan sampai melaporkan dua aktivis HAM yakni Haris Azhar dan Fathia, kepada Bareskrim Polri dengan dalil pencemaran nama baik dirinya. 

Tetapi pertanyaannya, jika memang tidak ada kepentingan bisnis tambang di Papua, kenapa operasi militer terus terjadi di Intan Jaya? Ada apa dengan Intan Jaya?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kajian yang dirilis oleh beberapa lembaga di atas diperkuat laporan investigasi visual yang dipublikasi oleh Narasi TV. Laporan itu memperlihatkan pengerahan militer Indonesia sesungguhnya adalah perang merebut emas yang terkandung di Blok Wabu. Sebelum negara mengeksploitasi emas di Intan Jaya, mereka harus terlebih dahulu mengusir manusia yang  menempati di Intan Jaya.

Indonesia tengah melakukan praktik kolonialisme demi eksploitasi Tanah Papua dalam hal ini Intan Jaya. Negara dengan kekuatan militer Indonesia sedang membantai dan mengusir dengan kejam rakyat Intan Jaya di atas tanah mereka sendiri. 

Penulis memahami TPNPB memiliki alasan melakukan peperangan dengan dalih melindungi alam dan kekayaan yang melimpah di tanah milik Suku Migani dan menuntut Indonesia agar membuka diri untuk menggelar referendum kemerdekaan. 

Sementara di sisi lain, negara berupaya mempertahankan penjajahan dan melanggengkan operasi militer dengan pengerahan militer dalam skala besar di Intan Jaya.

Akibatnya anak kecil, ibu-ibu, pendeta dan lainnya dibantai, sementara pembohongan publik melalui pembatasan akses jurnalis terjadi. 

Selama belum ada perundingan antara orang Papua yang menuntut merdeka dan pemerintah Indonesia yang belum mau terbuka, selama itu juga negara dan TPNPB akan terus bertikai sampai rakyat papua punah dari tanah airnya sendiri. 

Pesan dan harapan dari rakyat Papua kepada rakyat Indonesia sebagai sesama manusia ialah, Papua tidak sedang baik-baik saja. 

Kami dalam tekanan, sementara negara terus melakukan kekerasan baik fisik juga non fisik, pembunuhan, diskriminasi di tanah kami sendiri. Negara juga terus melakukan pengerahan kekuatan militer dan membunuh rakyat sipil yang tidak berdosa. 

Kami meminta solidaritas bersama untuk melawan kejahatan kemanusian oleh negara melalui militer di atas Tanah Papua. Kami ingin Hidup Damai diatas tanah kami sendiri.

Penulis adalah mahasiswa Papua di Semarang, Jawa Tengah