Perempuan Adat di Kabupaten Nagekeo NTT terus melanjutkan penolakan pembangunan Waduk Lambo di NTT walau diancam dengan penangkapan dan kriminalisasi. 

Hermina Mawa bergabung dengan rekan-rekannya menolak pembangunan Waduk Lembo pada Selasa (5/10). Ia mengaku tak takut walau pada aksi sebelumnya, Senin (4/10), perempuan adat ini sempat diborgol oleh aparat. Ia hadir di lokasi Lowose Desa Rendu, Butowe, Kab. Nagekeo Provinsi NTT. 

“Saya dan teman-teman tidak gentar, karena kami tidak melakukan tindakan kekerasan apapun dan mau memperjuangkan tanah leluhur kami,” ungkap dia kepada tim Hakasasi.id pada Selasa (5/10)

Mawa mengatakan kejadian pemborgolan yang ia alami berlangsung saat dirinya dan masyarakat sekitar mengawasi aktivitas yang dilakukan oleh Tim Survei BWS NTT II yang didampingi oleh 3 personel Brimob sejak pukul 7.30 pagi. 

Menurutnya, sejak pagi dirinya dan masyarakat tidak melakukan aksi kekerasan dan hanya mengawasi dari kejauhan. Namun, ada pukul 17.00 datang 3 sepeda motor yang mengangkut 6 orang Brimob yang mendadak datang untuk menertibkan masyarakat sekitar. 

“Kemarin mereka bilang kami menghalangi aktivitas di atas tanah negara, padahal itu tanah ulayat. Setelahnya kedua tangan saya langsung diborgol.” tutup dia. 

Melihat Mawa diborgol, perempuan adat lainnya tak tinggal diam. Mereka meminta turut ditangkap. Akibatnya aparat mundur. 

Kejadian yang dialami oleh Mawa bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya pada Senin (23/9) tiga orang warga adat dipanggil oleh Polda Resor Nagekeo karena mempertanyakan kehadiran aparat bersenjata.

Tindakan aparat menambah panjang ancaman yang diterima oleh masyarakat adat di Kabupaten Nagekeo. Semenjak rencana pembangunan Waduk Lambo diumumkan pada 2015, Proyek ini terus mengusik kehidupan ratusan warga adat dari desa Rendu, Pandora dan Lambo. 

Mereka menolak pembangunan waduk di atas tanah nenek moyang dan telah memberikan rekomendasi lokasi lain, yakni Malawaka dan Lowo Pebhu.