Dokumentasi Warga Nagekeo

Polisi bersenjata lengkap dan Camat dari Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, membongkar paksa pagar yang dibangun warga adat. Pagar dibuat untuk melindungi lokasi tanah dari rencana pembangunan Waduk Lambo.

Aktivis masyarakat adat, Hermina Mawa, menyebutkan pembongkaran pagar terjadi pada Rabu (22/9) pukul 12.00 WIT. Pembongkaran ini dilakukan untuk membuka jalan kepada petugas pengukuran tanah pembangunan waduk. Warga yang menjaga pagar itu sejak bulan Agustus berupaya mencegah tindakan itu. 

“Meski kami sudah terus menolak tanpa kekerasan, tapi tetap saja pagar kami dibongkar. Entah kepada siapa lagi kami harus mengadu mengenai masalah ini,” ungkap dia kepada tim Hakasasi.id

Saat ini upaya penolakan pembangunan Waduk Lambo masih berjalan. Mawa mengaku dirinya serta warga lainnya sudah berkali-kali melakukan upaya komunikasi dengan pihak berwenang seperti Ombudsman dan Staf Kepresidenan, namun tidak ada jawaban, bahkan upaya pengukuran tanah terus dilakukan. 

“Kami berharap bisa bertemu dan didengar oleh Pak Presiden Joko Widodo dan mendapatkan dukungan untuk menjaga tanah kami ini,” tambahnya

Senada dengan Mawa, salah seorang warga adat yang biasa dipanggil Mama Siti mengatakan rencana pembangunan Waduk Lembo telah melanggar hak-hak warga pemilik tanah.

“Kami yang punya tanah, tapi kok pemerintah yang asal menandatangani? Kok bisa ada data valid dari BPN, sementara di lokasi kami selalu menolak dan tidak pernah sepakat menjadikan lokasi ini sebagai tempat pembangunan,” ungkap dia. 

Lebih lanjut, Mama Siti mengatakan jika lokasi yang mereka pertahankan adalah bagian dari identitas budaya dan tempat warga bercocok tanam, berburu, beribadah bahkan bersekolah.

“Kami kerja persiapan musim hujan. Kami menanam jadi bertani jadi susah, diganggu terus jangan sampai kami gagal panen. Karena harus jaga di lokasi. Kita sepertinya belum merdeka, direbut pemerintah sendiri.” tambah Mama Siti

Kejadian pembongkaran tanah ini merupakan kelanjutan dari hadirnya perwakilan Balai Wilayah Sungai (BWS) NTT II dan Tim Survei yang dikawal oleh anggota Brimob bersenjata lengkap pada Senin (23/8). 

Warga pun mempertanyakan kehadiran tim itu. Sayangnya, tiga orang warga mendapatkan buah tangan berupa surat pemanggilan dari kantor polisi pada Selasa (21/9).

Ratusan warga adat Rendu, Pandora dan Lambo di Kabupaten Nagekeo telah melakukan penolakan pembangunan waduk sejak tahun 2015. Hingga saat ini para warga terus berjaga bergantian

Meskipun menolak lokasi pembangunan, warga adat mengaku tidak menolak rencana pembangunan pemerintah dan telah memberikan beberapa alternatif lokasi pembangunan Waduk, yakni Malawaka dan Lowo Pebhu.