Victor Yeimo photo by LBH Papua via Jubi

Para Pelapor Khusus PBB menyebut Victor Yeimo tak mendapat penanganan medis yang dibutuhkan.

Pelapor Khusus PBB mendesak pemerintah memberi perhatian serius terhadap kesehatan aktivis yang juga juru bicara Komite Nasional Papua Barat, Victor Yeimo. Menurut mereka penanganan kesehatan Victor di tahanan tak cukup baik, padahal ia menderita sakit di organ paru-parunya.

Desakan ini disampaikan melalui pernyataan resmi yang dikeluarkan Kantor Komisi Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Senin (20/9). Pelapor Khusus HAM PBB Mary Lawlor mengatakan selama berbulan-bulan otoritas Indonesia melarang Victor untuk mendapat penanganan kesehatan. 

Perilaku ini merupakan pola-pola umum di banyak negara yang secara sengaja memutus para pembela hak asasi manusia yang dibui dari akses fasilitas kesehatan. Hal ini membuat kebanyakan dari mereka menderita sakit yang lebih parah atau bahkan kematian. 

“Dan sekarang (Victor) dalam kondisi kritis dan bisa  membahayakan hidupnya,” kata Mary.

Kondisi kesehatan ictor dan perlakuan terhadap Victor di penjara telah menjadi perhatian para Pelapor Khusus PBB sejak Juni 2021 lalu. Mary mendapat informasi bahwa Victor mendapat perlakukan yang tidak manusiawi, seperti sel terisolasi tanpa penganan kesehatan yang memadai dana ventilasi yang buruk. Baik keluarga dan kuasa hukumnya pun kesulitan untuk menemuinya. 

Keadaan tersebut memperparah kondisi Victor yang seharusnya mendapat penanganan yang intensif. “Berdasarkan diagnosa atas kondisinya, kata Mary, Victor perlu mendapatkan pengawasan, pengobatan rutin, dan juga ruangan dengan ventilasi yang cukup, yang mana tidak ia dapatkan. Dan bisa memperburuk keadaan,” kata Mary.

“Sekarang saya memohon kepada Indonesia untuk menyelamatkan nyawa Yeimo dan menyediakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan,” kata Mary.

Pemerintah Indonesia sendiri pada pada Selasa (21/9) membantah pernyataan para pelapor khusus PBB terkait pembatasan akses kesehatan bagi Victor.

Victor ditangkap pada Mei 2021 lalu dengan tuduhan terlibat dalam usaha makar. Tuduhan tersebut terkait dengan aksi menolak rasisme pada Agustus 2019 di Papua. 

Selaku juru bicara Komite Nasional Papua Barat, Victor terlibat aktif menyuarakan perjuangan Papua ke dunia internasional. Namun, kriminalisasi ditimpakan kepadanya. Belakangan ia diketahui menderita sakit di bagian paru-parunya.