Foto: CNN

Lapas Tangerang terlalu sesak dengan terpidana narkoba. Tragedi meninggalnya 44 narapidana dalam kebakaran lapas lalu dipicu oleh sistem pemidanaan yang cenderung menjejal sel penjara.

Kriminologi Universitas Budi Luhur, Nadia Utami, menyebutkan tragedi kebakaran Lapas Tangerang yang merenggut 44 nyawa narapidana bermula dengan masalah overcrowded lapas. Pemerintah harus menyelesaikan pemicu masalah over kapasitas ini dari mulai sistem peradilan. 

Hampir semua lapas di Indonesia overcrowding. Nadia menjelaskan bahwa Ditjenpas sendiri sudah menambah lapas baru tetapi penuh kembali. Mengutip dari data Ditjenpas, jumlah napi dan tahanan keseluruhan kini sebanyak 265,777 jiwa dengan over kapasitas dari jumlah napi dan tahanan keseluruhan sebanyak 96% dari jumlah seharusnya.

“Lapas mau ngapa-ngapain juga serba salah. Overcrowded ini penyebabnya apa? SPT nya inputnya masuk terus. Jadi dari hakim penjara lagi-penjara lagi. Sementara Penjara sudah membludak. Jadi penjara ini masih jadi primadona dalam penegakkan hukum kita. Mindset itu yang perlu diubah,” Jelas Nadia dalam webinar Menilik Akar Permasalahan Lapas “Kasus Kebakaran Lapas Tangerang” Jumat (10/9).

Mayoritas penghuni lapas Tangerang terjerat kasus Undang-Undang Narkotika. Dari 2072 warga lapas Tangerang sekitar 87% atau 1800 orang adalah kasus narkoba. Bahkan dari 44 orang yang meninggal hanya satu korban yang merupakan narapidana terorisme. Kejadian ini pun menurutnya dapat ditemukan di lapas-lapas seluruh Indonesia. Padahal sebenarnya ada alternatif yang digunakan seperti rehabilitasi karena di UU Narkotika sebenarnya pun sudah disebutkan.

Selain itu ada tiga hal yang harus terpenuhi dalam keamanan lapas, yakni, keamanan fisik terkait fisik bangunan, keamanan prosedur, dan keamanan dinamis untuk fisik dan prosedur. Soal keamanan fisik bangunan sendiri, mayoritas lapas di Indonesia masih menggunakan pintu kamar manual. Tidak heran jika terjadi bencana petugas lapas akan sulit mengamankan narapidana. 

Kemungkinan untuk mencapai titik api sangat lama jika merujuk kepada Lapas Tangerang yang memiliki luas sekitar 2,5 hektar. Apalagi mengingat satu shift hanya dijaga oleh 12 orang regu jaga.

Ia menyebutkan selama ini beberapa prosedur keamanan lapas sudah diatur melalui berbagai peraturan. Tetapi implementasi di lapangan masih nihil. Selain itu SDM petugas masih kurang mumpuni. 

nadia mencontohkan ketika terjadi kebakaran pada pukul 1:45 WIB di Lapas Tangerang, penjaga yang berada di lokasi hanya berjumlah 1-2 orang. Tak heran jika mereka kebingungan menghadapi kebakaran.

Mengutip dari Sindonews, Komnas HAM bahkan menjelaskan bahwa Lapas Tangerang tidak memiliki sarana yang cukup untuk menanggapi bencana khususnya kebakaran. Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, menyebutkan pintu lapas hanya berjumlah satu menyebabkan sulitnya pelaksanaan evakuasi di lapas tersebut.

Selain itu, bahan bangunan yang masih menggunakan kayu menyebabkan Lapas Tangerang rawan akan bencana kebakaran. Bahkan situasi seperti ini tidak hanya ditemukan di Blok C yang menjadi pusat kebakaran. Melainkan blok-blok lainnya.

Terpisah, koalisi masyarakat sipil juga mendesak agar Yasonna Laoly bertanggung jawab dalam kebakaran lapas Tangerang karena sebenarnya Kemendagri bisa berbuat banyak dalam mencegah kebakaran. Salah satunya dengan merevisi UU Narkotika.

“Bahwa kegagalan pemerintah dalam melakukan Reformasi UU Narkotika senyatanya telah mengakibatkan over kapasitas lapas di Indonesia. Termasuk Lapas Tangerang dimana telah melebihi kapasitas 254 persen,” kata Maruf Bajammal, pengacara publik LBH Masyarakat pada konferensi pers vitual, Minggu (12/9).