Istilah ‘kritik dengan sopan santun’ dinilai hanya akalan-akalan otoritas membungkam ekspresi warga. Warga yang dinilai sudah melewati batas sopan santun bisa dengan mudah dikriminalisasi.

Daywin Prayogo dari hakasasi.id menilai kesopanan merupakan hal yang subjektif. Mereka yang merasa tersindir dengan kritik bisa dengan mudah mengkriminalisasi warga. Hal yang mana sudah marak terjadi,  seperti warga pembuat mural kritik yang diciduk aparat sampai somasi yang dialamatkan kepada aktivis yang melakukan advokasi.

“Tidak ada bahkan (dasar) ancaman pidana dipenjara akibat tidak sopan. Jadi memang aneh ukuran yang dipakai untuk mengamankan dan sebagainya,” kata Daywin dalam diskusi yang diinisiasi @Bangsamanusia bertajuk ‘Sopan Santun Kritik Dan Represifitas Aparat’ yang diselenggarakan pada Kamis (9/9).

Ia juga mengkhawatirkan warga mencontoh perilaku para pejabat yang langsung melaporkan orang-orang yang tidak mereka sukai.

“Concern saya, jadi, ini sebenarnya ketakutan kita ada dimana? Pejabat yang mencontoh kita atau masyarakat justru yang mencontoh kepada pejabat saat ini. Karena, tingkat penggunaan kuasa untuk menunjukan dirinya dapat memenjarakan siapapun banyak dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Sementara itu, Rivanlee Anandar dari KontraS menyatakan ucapan presiden yang menyatakan kritik dapat diekspresikan namun dengan pertimbangan sopan santun telah membuat kebingungan aparat. 

Terlebih lagi tindakan represif ini pun tidak pernah diungkap ataupun diadili menyebabkan lahirnya praktek kesewenang-wenangan.

“Konsekuensinya alat-alat negara jadi reaksioner. Contohnya ada kasus mural, kasus poster, dan kasus dipukuli,” ucap Rivanlee.

Ia juga menyatakan bahwa selama ini presiden memang membolehkan warga mengkritik dirinya. Namun, presiden tidak pernah menjamin keamanan warga yang mengekspresikan kritiknya tersebut.

Tidak adanya jaminan atas kebebasan berpendapat ini kemudian dikhawatirkan akan membuat warga semakin malas untuk peduli kepada urusan-urusan publik.

“Males atau gak mau mikirin karena politic of fear sudah berjalan dan kemudian orang-orang sudah jiper duluan. Karena eskalasinya terus mengerucut. Represi aksi maksa turun ke virtual police, turun ke mural, turun ke poster semua reaksioner dan semua seolah terlegitimasi atas nama mungkin atas nama asal bapak senang,” jelas Rivanlee.