Suciwati menutup harapannya pada pemerintah untuk mengungkap pembunuh suaminya. Sejumlah petunjuk dan putusan hukum yang bisa menopang pengungkapan justru diabaikan.

Suciwati, istri pegiat HAM Munir Said Thalib, tak berharap banyak terhadap pemerintahan Joko Widodo soal pengusutan kasus pembunuhan yang menimpa suaminya. Pemerintahan ini tak memiliki perhatian untuk penuntasan kasus-kasus HAM.

“Pemerintahan ini, iya hopeless. Tapi nanti untuk kasusnya tidak (boleh terpendam),” kata Suciwati dalam NgeHamtam bertema ‘Suciwati:Cak Munir Bukan Sekadar Suami, Tapi Juga Sahabat’ yang tayang Selasa (7/9).

Setelah peristiwa pembunuhan Munir berlalu selama 17 tahun, Suciwati masih menunggu pengungkapan dalang pembunuhan suaminya. Namun, hingga kini tak ada nama baru yang diseret ke meja hijau selain eks pilot Garuda Indonesia Pollycarpus Budi Priyanto. Ia divonis bersalah terlibat dalam pembunuhan. 

Sementara eks petinggi Muchdi yang awalnya didakwa terlibat pembunuhan tersebut justru lepas dari segala dakwaan.

Presiden Jokowi sendiri menjanjikan penuntasan kasus ini pada 2016 lalu. Namun ucap penuntasan tak kunjung terbukti. Sementara dokumen Tim Pencari Fakta yang disebut-sebut memuat sejumlah nama penting terkait kematian Munir sempat dinyatakan hilang.

Suciwati melihat bahwa negara sebenarnya punya petunjuk-petunjuk berupa putusan pengadilan, ataupun temuan-temuan investigasi yang bisa digunakan untuk mengungkap kasus tersebut. Namun, baginya pemerintah tak memiliki niat untuk menyelesaikannya.

“Kita setiap hari dicekokin yang namanya impunitas bagaimana semua kasus-kasus pelanggaran HAM, HAM berat ya rata-rata tidak akan terungkap. Apalagi mereka yang terlibat di sana itu mempunyai kekuasaan, mempunyai senjata. Dan itu selalu bebas,” kata Suciwati.

Padahal pengungkapan kasus kematian  ini penting bagi keluarga Munir dan sejarah Indonesia. Ia tetap berharap ke depan dalang pembunuhan suaminya bisa diungkap.

“Selalu dibilang, kenapa sih tidak mau memaafkan. Tentu saja ini bukan masalah mau memaafkan atau tidak. Memaafkan itu kan berarti kita tahu pelakunya siapa, siapa yang perlu kita kasih maaf. Ini kan enggak ada. Kita kasih maaf kepada siapa?,” kata Suciwati.