Sumber foto detik.com

Mural sebagai lukisan kritik di tembok jalanan akan tetap abadi walau sudah ditimpa cat aparat. Visual Jalanan, salah satu program dari Forum Lenteng– sebuah organisasi non-profit berbasis komunitas, mengarsipkan semua mural yang dihapus itu. Mereka pun memamerkannya di media sosial hingga pameran. 

Andang Kelana, aktivis Visual Jalanan, mengaku cukup terganggu dengan penghapusan mural berisi kritik di tembok-tembok jalanan oleh aparat. Bahkan kepolisian sampai memburu bomber, artis mural, beberapa mural yang menggambar muka mirip Presiden Joko Widodo. Baginya pembungkaman ini berlebihan. 

Andang Kelana (extended.asia)

“Mural atau grafiti dihapus itu ibarat kata makanan seniman jalanan sehari-hari, yang bikin ini besar dan menuai kontroversi adalah kriminalisasi kepada pembuat muralnya. Kenapa ini jadi masalah besar sekarang?” ucap Andang saat dihubungi oleh tim Hakasasi.id pada Jumat (27/8)

Ia pun tak berpangku tangan melihat sikap represi aparat ini. Andang dan rekan-rekannya mengabadikan mural sebelum dihapus oleh aparat. Mereka menggelar kembali karya itu secara digital di media sosial dan pameran. 

“Visual Jalanan jadi jurnal rekaman untuk karya di jalanan yang sifatnya sementara, oleh sebab itu kami dokumentasiin untuk jadi saksi, karena tiap karya seniman jalanan berisi pesan yang terjadi dalam society kita.” ungkap dia.

Menurutnya mural dan grafiti adalah bagian dari sejarah yang harus diarsipkan dan menjadi rekam jejak kondisi sebuah negara, oleh karenanya Ia membuat sebuah platform digital bernama Visual Jalanan untuk membantu seniman jalanan mengabadikan karya mereka.

Logo Visual Jalanan via twitter.com

Menurut dia, mural merupakan salah satu cabang kesenian jalanan yang memiliki fungsi sebagai media kritik. Bagi Andang, mural adalah kebebasan untuk menciptakan ekspresi budaya yang bebas dari sensor pemerintah, campur tangan politik. Makanya karya ini harus tetap abadi.

Selama pandemi, akun ini tidak berhenti menyoroti aktivitas para seniman jalanan yang masih berkarya menuangkan ekspresi dalam bentuk mural atau grafiti di atas medium cat dan tembok. 

Setidaknya ada 20 hingga 30 interaksi dari para seniman jalanan yang melibatkan akun Visual Jalanan setiap harinya. Sebagai rekam jejak digital, perubahan isi dan pesan karya bisa terlihat di akun instagram @visual.jalanan.

“Awal pandemi kebanyakan mural isinya mengenai solidaritas melawan Covid-19, info lockdown dan dukungan untuk nakes, sekarang isi pesannya makin berkembang dan berbeda, bahkan mulai melakukan kritik,” tambah dia. 

Menurut Andang, mural bermuatan kritik sudah mulai mendominasi di tahun 2021. VJ berdiri pada tahun 2012 dan menjadi pelopor bagi para pegiat kesenian jalanan untuk membuat platform di media sosial. Selain mengkurasi karya seniman jalanan di berbagai daerah, Visual Jalanan juga telah mengarsipkan karya dari 48 seniman individu dan 3 seniman kolektif di dalam website mereka.

Kriminalisasi seniman yang muncul belakangan membuatnya terancam. Padahal mural-mural berisi kritik telah lama muncul, bahkan pada tahun 2020, sempat ada mural yang mengkritik korupsi.

Sejak intimidasi akun Visual Jalanan semakin aktif menjadi wadah penyebaran informasi dan edukasi untuk masyarakat. Visual Jalanan pun ikut mendukung ‘Perlombaan Mural Dibungkam’ yang diadakan oleh Gejayan Memanggil.