Sumber foto: Suara Papua

Keberadaan perusahaan tambang di Sugapa, Intan Jaya, Papua, dikhawatirkan merusak lingkungan dan membuat warga tersingkir dari tempat tinggalnya. Operasi tambang di daerah itu justru membuat masyarakat menderita.

Yanuarius Weya dan teman-teman sesama pelajar asal Intan Jaya, Papua, mendengar kabar rencana eksploitasi emas Blok Wabu, Distrik Sugapa, Intan Jaya, pada pertengahan 2020 lalu. Respon mereka hanya satu, tolak. Pangkalnya adalah pertambangan berpotensi membahayakan lingkungan hidup.

Kenangan pahit kondisi di Timika, tempat eksplorasi emas PT Freeport, membayangi Yanuarius dan teman-temannya. Daerah itu menyisakan kerusakan alam dan konflik. Mereka tak mau hal yang sama terjadi di kampung halaman mereka.

“Kami sudah tidak mau terjadi (hal yang sama)  dengan Freeport, alamnya, emasnya diambil masyarakatnya hidup berantakan,” kata Yanuarius yang kini menjabat ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Intan Jaya se-Jayapura kepada hakasasi.id.

Blok Wabu memang dikenal kaya akan kekayaan emas. Diperkirakan terdapat 8,1 juta ons bijih emas tersimpan di wilayah tersebut.

Laporan YLBHI, Walhi Eksekutif Nasional, Pusaka Bentala Rakyat, Walhi Papua, LBH Papua, KontraS, Jatam, Greenpeace Indonesia, dan Trend Asia menyebutkan setidaknya empat perusahaan tambang yang kini memiliki konsesi di Intan Jaya.

Salah satunya adalah BUMN PT ANTAM yang memegang konsesi di Blok Wabu.

Yanuarius dan teman-temannya juga sadar pengerahan aparat secara besar-besaran ke kampung halaman mereka pun terjadi dengan dalih keamanan warga, walaupun sebenarnya untuk keamanan perusahaan.

“Itu kami sudah tahu, kami sudah belajar dari Freeport, Blok wabu ini sudah disiapkan. Makanya mereka siapkan keamanan ke sana,” kata Yanuarius.

Padahal wilayah Blok Wabu dihuni warga. Mereka bercocok tanam dan berburu di wilayah tersebut. Sungai yang mengalir di wilayah tersebut menjadi vital untuk kelangsungan hidup warga. 

Para mahasiswa dan pelajar tak mau kehadiran perusahaan tambang membuat warga tersingkir. Mereka mulai mensosialisasikan penolakan terhadap warga. Mulai dari Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Majelis Rakyat Papua, sampai gereja mereka temui.

“Kami meminta bantuan di gereja-gereja supaya  semua pihak menolak itu,” kata Yanuarius.

Sementara itu, para pelajar Intan Jaya yang tersebar di beberapa kabupaten lain, seperti di Timika dan Nabire turut melancarkan aksi protes terhadap rencana tersebut.

Mereka tak mau lingkungan rusak dan warga jadi tersingkir akibat kehadiran perusahaaan tambang di wilayah tersebut.

“Ekosistem diganggu, burung-burung akan lari, kemudian mau tanam apa pasti tidak akan subur, apalagi Intan Jaya ini daerahnya kecil sekali. Jadi kalau (tambang) sudah masuk pasti sudah bergeser. Jadi kami betul-betul sadar dan tolak,” kata Yanuarius.