Kondisi terkini Yuliantika

“Istri saya sekarang sudah ga bisa lagi duduk, harus tertidur karena lukanya semakin parah. Tiap kali berobat, kami terus diminta resume medis yang ga kunjung keluar. Saya merasa hidup kami makin terbengkalai di tengah pandemi ini,” – Irwan Supandi

Suara tangis balita terdengar keras saat Irwan Supandi, suami dari Yuliantika korban dugaan malpraktek RS Buah Hati, Ciputat, Tangerang Selatan, mengangkat telepon dari tim riset Hakasasi.id. Sore itu, seperti biasanya Irwan menghabiskan waktunya dengan putrinya yang berusia 1,4 tahun.

Sudah hampir dua tahun kehidupan Irwan dan keluarganya berubah. Semenjak melahirkan dengan cara caesar, Yuliantika harus mengalami kelumpuhan dan luka yang tak kunjung sembuh. Kondisi ini yang membuat Irwan memutuskan untuk mengurus istri dan buah hatinya dan berhenti bekerja sebagai driver ojek online. 

Mau bagaimana lagi, pikirannya selalu melayang ke istri dan putri kecilnya di rumah tiap kali dia mengemudikan motornya. Dia pun memutuskan untuk mengambil pekerjaan serabutan agar dia bisa fokus mengurus keluarga kecilnya. 

“Penghasilannya memang ga tetap, tapi saya bisa mastiin kalo istri saya terurus dan ga kesakitan. Setiap hari dia menangis kesakitan, benar-benar sudah tidak bisa apa-apa. Kalo orang lain, mungkin ada rasa segan atau bahkan jijik kalo mengurus luka istri saya, tapi kalo saya kan engga gitu,” ungkap Irwan lirih

Irwan & Yuliantika

Saat ini keluarga kecil ini mengandalkan upah hasil pekerjaan Irwan yang tidak menentu dan tidak pernah lebih dari Rp 100 ribu. Sering kali Irwan pulang dengan tangan kosong, sehingga untuk membeli kebutuhan harian, obat dan keperluan bayi, dia harus meminjam kepada kedua orang tuanya.

Kesulitan yang dihadapi Irwan tak lantas membuatnya berhenti berjuang. Bulan April lalu (17/4), ketua Fraksi PSI DPRD Tangerang, Ferdiansyah mendampingi Irwan untuk menyambangi kantor-kantor pemerintahan Tangerang, dimulai dari kantor DPR, Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Tangerang untuk mengurus kartu BPJS Yuliantika. 

Kartu kesehatan yang sempat mati suri, kini kembali berfungsi. Meskipun begitu permasalah resume medis kembali menghadang proses pengobatan dan membuat Yuliantika tidak bisa sepenuhnya mendapatkan perawatan. 

“Ga ada perubahan besar dari situ, bukannya tidak bersyukur, tapi dengan tidak adanya resume medis. Nasib istri saya pun tidak jelas di rumah sakit. Karena proses panjang, dia sudah menangis dan akhirnya kami pulang.” tambah dia

Irwan dan Yuliantika tidak pernah menyerah dan terus berjuang untuk mencapai keadilan yang tertunda hampir dua tahun lamanya.

Al-Ayyubi Harahap, kuasa hukum Yuliantika dari kantor Hukum dan HAM Lokataru mengatakan jika proses peradilan membutuhkan tahapan yang panjang dengan prosedur yang ketat.

“Saat ini tahap pembuktian dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) sudah selesai, tinggal menunggu keputusan dari sidang pleno hakim. Keputusan ini yang nanti akan menjadi bukti kuat untuk melakukan gugatan perdata dan bukti untuk penyelidikan oleh polisi di Mabes Polri,” ungkap dia saat dihubungi tim Hakasasi.id

Irawan Supandi bersama Al-Ayyubi Harahap

Lebih lanjut, Ayyubi mengatakan akan terus memperjuangkan keadilan untuk Ibu Yuliantika apabila keputusan akhir pleno tidak sesuai dengan harapan.

“Tidak akan berhenti, jika ternyata ditolak oleh hakim. Kami akan terus berusaha untuk mendapatkan keadilan.” tutup dia 

Irwan Supandi telah melaporkan RS Buah hati dan seorang dokter bernama dr. Elizabeth Angeline Poluakan ke Bareskrim Mabes Polri dengan pasal 36 ayat (1) jo. Pasal 361 KUHP jo. Pasal 79 UU Praktik Kedokteran tentang kelalaian pada Rabu, 10 Februari 2021.