Sejak memilih bergabung dengan Indonesia pada 1999, warga eks Timor Timur di NTT justru terlantar. Janji relokasi pemerintah kepada mereka tak ditepati, sementara mereka hidup di tanah bermasalah.

Ribuan Warga Negara Indonesia eks Timor Timur yang tinggal di pengungsian Nusa Tenggara Timur, hidup terlantar tanpa perhatian pemerintah. 

Risno Pakur, praktisi hukum yang mengadvokasi para warga eks Timor Timur tersebut mengatakan pemerintah abai terhadap mereka yang sudah memilih menjadi warga Indonesia, di saat sanak saudara mereka memilih merdeka.

Setidaknya sudah tiga generasi dari eks warga Timor Timur yang tinggal Oebelo, yang terletak di Timur Laut Kupang tersebut, tinggal di pengungsian tanpa perhatian yang berarti.

Janji relokasi oleh pemerintah tak kunjung terlaksana. Akhirnya, mereka terpaksa berjuang sendiri mengurus sertifikasi tanah yang mereka tinggali. 

Sementara itu, sertifikat tanah yang mereka miliki diketahui bermasalah lantaran pihak lain juga memegang sertifikat lahan yang sama.

Bayangkan teman-teman, mereka sudah mencintai merah putih dengan berbagai risiko saat itu meninggalkan sanak saudara di Timor Leste sampai di sini mereka mencari tanahnya sendiri. Sudah beli tanah menjadi hak milik, terus ditipu, sertifikat (berdiri) di atas sertifikat,” kata Risno dalam NgeHamtam edisi “Apa Arti Sejahtera Buat Warga Eks Tim-tim?” yang diunggah pada Sabtu malam (14/8).

Salah seorang warga yang ditemui Risno mengatakan mereka sudah mencoba melaporkan permasalahan yang mereka hadapi kepada sejumlah pihak. Namun, upaya mereka mencari keadilan kerap menemui jalan buntu.

Semua cara sudah kami lalui, mulai dari Ombudsman, ke pemerintah, baik itu secara tertulis, langsung, semua sudah dilakukan, namun hasilnya nihil,” kata warga tersebut.

Direktur Lokataru Haris Azhar mengatakan pemerintah sudah abai terhadap warga eks Timor Leste yang telah rela meninggalkan tanah kelahiran dan keluarganya demi ikut Indonesia. 

Ini adalah warga negara Indonesia yang kehilangan akarnya, tempat tinggalnya, dan harga dari mereka membela itu justru tidak dapat timbal balik dari negara,” kata Haris.

Oleh karena itu, kata Haris, diperlukan perhatian segenap pihak untuk membantu menyelesaikan masalah yang permasalahan yang menimpa lebih dari satu generasi tersebut.

Pengungsi eks Timor Timur diketahui meninggalkan tanah kelahiran mereka, sejak tanah kelahiran mereka yang kini bernama Timor Leste memutuskan memerdekakan diri pada 1999. Sebanyak ratusan ribu memilih bergabung dengan Indonesia dan menetap di sejumlah pengungsian di Nusa Tenggara Timur. Hanya saja, setelah memilih bergabung dengan Indonesia, mereka justru dilanda sejumlah persoalan, seperti masalah kesehatan, kesejahteraan dan pendidikan.