Foto: KSDAE

Kebakaran savana Taman Nasional Komodo akibat keserampangan pemerintah mengurus ekosistem taman nasional ini.

Kebakaran padang savana seluas 10 hektar di di Laju Pemali TNK, NTT terjadi pada Sabtu (7/8) lalu. Manager Kampanye WALHI NTT, Rima Bilaut, menyebutkan kebakaran terjadi di zona merah atau zona inti konservasi. Walau tak mengancam komodo tapi amukan api ini mengancam berbagai satwa dan tumbuhan endemik disana.

Ia menyebutkan savana merupakan ekosistem yang rentan terhadap kebakaran. Pada 2018 lalu kebakaran juga terjadi di Gili Lawa. Kobaran api berasal dari wisatawan yang membuang puntung rokok sembarangan.

Seharusnya penyebab kebakaran ini menjadi perhatian pemerintah ketika mengelola TNK. Masalahnya rencana pemerintah dalam membuat kawasan TNK sebagai tujuan pariwisata prioritas pun akan menjadi ancaman besar bagi ekosistem setempat. 

Padahal pemerintah sendiri tak pernah melakukan studi atau perlindungan terhadap ekosistem TNK, misalnya saja upaya restorasi khusus padang savana. Bahkan tidak ada undang-undang yang melindungi savana di NTT secara khusus. Selain itu hingga kini tak ada ahli savana di Indonesia, alhasil tidak ada pakar yang dapat memaparkan bagaimana restorasi padang savana seharusnya dilakukan.

“Sampai saat ini kita belum ada ahli savana bahkan ahli komodo pun tidak ada. Itu yang seharusnya kita dorong. Ketika sudah ditetapkan sebagai ekosistem khas yang ada di NTT bisa mendatangkan ahli yang dapat menyusun proses restorasi yang cocok tentang bagaimana restorasi padang savana seharusnya dilakukan,” kata Rima.

Sebelumnya Balai Nasional Taman Komodo (BNTK) memastikan bahwa tidak ada komodo yang mati akibat kebakaran tersebut.

“Yang terbakar itu daerah tebing. Tidak ada komodo (di sana),” ucap Lukita Awang, Kepala BNTK kepada Republika.

Ia mengakui faktor manusia bisa menjadi pemicu kebakaran namun kemungkinannya kecil karena lahan yang terjal. Atau ada juga faktor lainnya, yakni cuaca di lokasi yang panas dan gersang. kemungkinan faktor manusia menjadi penyebab kebakaran.

Namun Rima menganggap keterangan BNTK menyepelekan perlindungan ekosistem di TNK. Seharusnya lembaga itu tak terjebak dan melihat TNK dengan kacamata kuda perlindungan satwa komodo saja. Tapi, juga penjagaan ekosistem, khususnya savana yang khas.

“Jadi jika kebakaran tersebut ditanggapi dengan bilang ‘tidak ada habitat komodo disana’ saya pikir itu agak keliru. Kebakaran itu tidak menempatkan ekosistem khas savana sebagai ekosistem yang esensial, perlu dikelola dan bahkan direstorasi keadaannya di NTT. Khususnya di Taman Nasional Komodo,” jelasnya saat diwawancara hakasasi.id Kamis (10/8).

Website milik TNK sendiri menyebutkan ada 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptil di taman nasional itu. Beberapa hewan unik yang ada disana antara lain Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), Blue White-lipped Pit Viper (Trimeresurus albolabris), Pari Manta Raksasa (Manta birostris), dan Kuda Liar (Equus ferus)

Sebelumnya, UNESCO memperingatkan pemerintah Indonesia perihal pengelolaan TNK dan mendesak penghentian pembangunan di wilayah sekitar. Salah satu alasannya yakni belum adanya laporan AMDAL yang memadai. Menyebabkan pembangunan kawasan wisata mengancam integritas ekosistem setempat.