Foto: Liputan 6

Peringatan UNESCO atas empat warisan budaya dunia di Indonesia menambah jumlah terancamnya warisan budaya di bawah pengelolaan pemerintah. Pada 2019 UNESCO sendiri memasukkan satu warisan budaya dunia di Indonesia ke dalam daftar merah. 

Peringatan UNESCO terakhir dilayangkan melalui dokumen WHC/21/44.COM/7B United Nation Educational, Scientific dan Cultural Organization Concerning The Protection of The World Cultural and Natural Heritage pada pada 4 Juni.

Beberapa warisan budaya itu antara lain Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Lorentz, Candi Borobudur, dan Sistem Pengairan Subak di Bali. 

Sedangkan pada tahun 2019, UNESCO menyebutkan dalam dokumen  WHC/19/43.COM/18, bahwa hutan hujan tropis Sumatera masuk sebagai daftar merah.  Daftar merah sendiri berarti bahwa warisan budaya dunia tersebut terancam kehilangan karakteristik khasnya.

Peringatan ini menjadi perhatian aktivis karena ancaman ini terkait dengan eksploitasi hutan, pembangunan infrastruktur, dan pariwisata. 

Program Manager Lokataru Foundation, Mirza Fahmi, menyebutkan dokumen ini menunjukkan pemerintahan Jokowi tidak memiliki pandangan jauh kedepan dalam orientasi pembangunannya. Teguran ini merupakan bukti pemerintah saat ini bahkan tidak siap dalam mengemban tanggung jawab menjaga warisan budaya dunia.

“Pemerintah Jokowi sudah 7 tahun berkuasa tapi program pembangunannya jarang koheren. Akhirnya perencanaannya selalu myopic (berpandangan pendek), bisa dibilang orientasinya cuma bagi2 jatah dan akses saja,” ucapnya. 

Hal serupa juga diungkap Direktur Eksekutif WALHI Nasional, Nur Hidayati. Pemerintah, kata dia, berusaha mengejar gelar-gelar tersebut sebagai kebanggaan semu tanpa benar-benar memahami kewajiban yang melekat pada pemberian gelar-gelar tersebut kepada negara

Berikut beberapa empat warisan budaya dunia di Indonesia yang masuk dalam peringatan UNESCO dan satu warisan budaya dunia yang masuk dalam daftar merah pada 2019:

1. Taman Nasional Komodo

Pembangunan di Taman Nasional Komodo dianggap lalai dalam memastikan nilai-nilai universal luar biasa (OUV) yang terkandung dalam prinsip-prinsip penjagaan warisan budaya dan juga belum memiliki analisis dampak lingkungan (EIA) yang sesuai dengan standar UNESCO. Selain itu, UNESCO juga menyoroti soal rentannya kawasan alam bahari yang berada di kawasan tersebut.

2. Taman Nasional Lorentz

Taman nasional yang berada di Papua tersebut terancam rusak akibat aktivitas pembangunan jalan trans Habema-Kenyam. oleh karena itu pihak UNESCO pun mendesak pemerintah agar menghentikan segala pembangunan yang berada dalam kawasan tersebut dan mengurus ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan UNESCO seperti: 

  1. Menyerahkan rincian tindakan mitigasi yang telah dilakukan dan yang direncanakan untuk jalan Habema-Kenyam.
  2. Menutup jalan untuk kepentingan umum sampai langkah-langkah mitigasi dilaksanakan sepenuhnya,
  3. Memberikan klarifikasi kepada Pusat Warisan Dunia tentang Jalan Raya Trans-Papua dan potensi dampaknya terhadap Nilai Universal Luar Biasa di kawasan tersebut, terutama integritas lingkungannya, termasuk peta terperinci, salinan Lingkungan Penilaian Dampak (AMDAL/EIC) serta langkah-langkah mitigasi yang diperkirakan, sebagai suatu prioritas dan harus dilaksanakan sebelum pembangunan dilanjutkan;

3. Candi Borobudur

Foto: Tirto.id

Rencana pembangunan wilayah terbuka di Candi Borobudur dianggap UNESCO dapat merusak integritas lingkungan Candi Borobudur. Sementara, pemerintah berencana untuk membangun prasarana pendukung pariwisata dalam kawasan terbuka warisan budaya dunia tersebut. UNESCO menemukan bahwa dokumen analisis dampak pusaka atau heritage impact assessment (HIA) yang dimiliki oleh Indonesia dalam membangun kawasan tersebut belum sesuai dengan ketentuan. Sehingga, badan dunia tersebut meminta agar pemerintah mengkaji ulang dokumen tersebut sebelum pembangunannya. 

4. Sistem Irigasi Subak

Bali tidak hanya terkenal dengan pantainya yang indah, tetapi juga sistem pengairan Subak yang menjadi warisan budaya dunia. Subak sendiri ialah sistem irigasi khas Bali  Akan tetapi, sistem pengairan ini terancam rusak karena banyak alih fungsi lahan dilakukan kepada sawah-sawah di Bali. UNESCO sendiri meminta agar Indonesia segera membuat kajian dampak dari pembangunan di sekitar wilayah irigasi Subak sebelum membuat keputusan yang “nantinya akan sulit untuk diperbaiki.”

5. Hutan Hujan Tropis Sumatera

Foto: BBC

Hutan Hujan Tropis Sumatera ditetapkan menjadi situs warisan budaya dunia pada tahun 2004 karena memiliki potensial besar dalam melindungi berbagai biota yang unik dan beragam. Kawasan ini sendiri meliputi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Sejak tahun 2011, Hutan Hujan Tropis Sumatera masuk ke dalam daftar merah situs warisan budaya yang hampir punah oleh UNESCO. Dalam klasifikasi 

Hal ini dikarenakan pemerintah gagal untuk melindungi berbagai ancaman yang menghantui kawasan tersebut. Dimana salah satunya adalah tergerusnya lahan akibat pembangunan jalan dan pembalakan liar.