Proses hukum penganiayaan dua anak oleh anggota TNI di Nusa Tenggara Timur dipastikan terus berjalan. Kedua anak ini mendapatkan pendampingan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (DP3A).

Direktur Lembaga Advokasi Anti Kekerasan Masyarakat Sipil (Lakmas) NTT, Viktor Manbait, memastikan proses hukum terhadap anggota TNI atas penganiayaan Yakobus Naissau (17) dan Mikhael Jeffentus Ukat (15). Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) melalui divisi P2TP2A Kabupaten Timur Tengah Utara (TTU), NTT, menjenguk Ukat di kediamannya untuk menggali kronologi kejadian penganiayaan pada Selasa (3/8). 

“Dalam penegakan hukumnya ini adalah tindak pidana biasa dan ini satu bentuk penganiayaan dimana pada masa pandemi dimana seharusnya kelompok rentan seperti anak-anak mendapatkan perlindungan yang penuh. Menurut kami pemerintah gagal memberikan perlindungan kepada kelompok rentan khususnya anak-anak pada masa pandemi ini. Karena, dalam pelaksanaan protokol covid masih ada perilaku menyimpang yang dilakukan oleh mereka yang bertanggung jawab dalam penegakan protokol covid ini,” ucap Viktor kepada hakasasi.id pada Selasa (3/8). 

Mikhael Naissau, ayah dari Yakobus, sebelumnya telah berkirim surat kepada DP3A. Lembaga DP3A lantas memberikan bantuan berupa pendampingan psikologis, pelayanan kesehatan dan pengobatan dan perlindungan korban selama proses hukum. Petugas P2TP2A juga mengunjungi Naisau di RS Leona Kefamenanu untuk konseling psikologis didampingi oleh dokter Aga Amaral pada Senin (2/8).

“Kemarin disinggung untuk pendampingan psikologinya, untuk kelancaran pelayanan kesehatan dan pengobatan, dan pendampingan korban dalam proses hukum,” imbuh Viktor. 

Selama ini biaya rumah sakit sudah ditanggung oleh pihak TNI, tetapi pihak P2TP2A mempersiapkan biaya perawatan dan pengobatan jika tidak difasilitasi oleh TNI. 

Sebelumnya dua anak itu itu merupakan korban penganiayaan yang dilakukan oleh Elias Punef, seorang Kopral Kepala anggota TNI Koramil Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT. Elias menganiaya kedua korban lantaran melanggar protokol kesehatan.

Elias bertemu dengan Yakobus dan Ukat di sebuah tempat hiburan, tempat billiard, pada saat penerapan PPKM hari Jumat (30/7). Anggota TNI itu menegur dan mengantarkan kedua anak tersebut ke rumah Naissau dan bertemu kakaknya, Marcel. Marcel dan dua anak itu lantas meminta maaf karena melanggar protokol kesehatan. 

Elias lantas menelepon atasannya. Walau sudah diingatkan untuk tak melakukan kekerasan, Elias nekat melakukan kekerasan. 

Viktor menyayangkan hal tersebut, menurut dia penegakan aturan PPKM tak seharusnya dilakukan dengan cara arogan semacam ini. 

Dandim 1618/TTU Letkol Arm. Roni Junaidi sangat menyesali kejadian yang terjadi. Ia akan mengusut kasus ini dan memastikan proses hukum terus berjalan. Elias Punef sendiri saat ini ditahan sementara di sel Makodim.

“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar – besarnya kepada korban dan keluarga korban, terutama kedua orang tua dari Yakobus Naisau dan Mikhael Juventus. Kita akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan,” kata Roni seperti dikutip dari NTTOnlineNow.com.