Doxing kini dirasa menjadi teror untuk membungkam kritik. Aktivis, akademisi kritis, hingga mahasiswa kini rentan dengan serangan digital ini. Tetapi ancaman ini tak boleh membuat bungkam. 

Anita Wahid mengungkap doxing adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk menyempitkan ruang warga dalam menyampaikan pendapat.

“Ada beberapa upaya penyempitan ruang warga di zona digital, beberapa caranya ya dengan doxing, peretasan akun, food bombing (mengirim makanan melalui ojek online kepada korban yang tidak menahu) dan UU ITE,” ungkapnya dalam segmen #NgeHAMtam di kanal youtube pribadi Haris Azhar yang diunggah pada 14 Juni 2021.

Terbukti, praktik doxing terjadi baru-baru ini dan menimpa 4 orang aktivis dari Blok Politik Pelajar (BPP) yang dituding sebagai dalang dari Jokowi End Game. Mereka mengalami peretasan akun pribadi sampai ancaman pembunuhan. 

Riset yang dilakukan oleh Asia Freedom of Expression Network (Safenet) yang menuliskan bahwa serangan doxing di Indonesia meningkat dua kali lipat sejak tahun 2017 hingga 2020.

Berasal dari kata dox atau dokumen (document/ doc), doxing dapat diartikan sebagai aktivitas mengumpulkan data pribadi milik seseorang dan menyebarkan ke publik tanpa adanya persetujuan. Praktik ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena dapat memberikan dampak berkepanjangan kepada korban. 

Dunia digital yang tidak memiliki batasan membuat praktik doxing berpotensi mengenai siapapun. Dikutip dari safenet.or.id, ada beberapa cara untuk menghindari praktik doxing dan menjaga data pribadi anda juga keluarga tetap aman, yaitu: