Sumber foto : aspirasipublik.com

Keinginan 11 masyarakat adat Natumingka bertemu Presiden Joko Widodo untuk berkeluh kesah soal operasi PT. Toba Pulp Lestari (TPL) masih menemui jalan buntu. Aksi longmarch yang dilakukan dari kampung mereka Natumingka, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, dicegat di Bundaran Patung Kuda, Jakarta Pusat. Kini mereka masih menunggu kesempatan itu.

Aksi Long March ke Jakarta selama 44 hari dilakukan oleh 11 orang masyarakat adat Toba belum berhasil mencapai tujuan mereka untuk berbicara dengan presiden. Namun, aksi mereka jalan ke istana presiden gagal karena dihadang oleh pihak polisi pada Kamis lalu (27/7). Peserta longmarch yang menamakan diri Tulus Ikhlas Militan 11 (TIM 11) melakukan aksi ini karena selama 30 tahun PT. TPL telah meresahkan kehidupan mereka.

TIM 11 sendiri terdiri dari Togu, Anita Martha Hutagalung, Irwandi Sirait, Christian Gultom, Erwin Hutabarat, Ferry Sihombing, Agustina Pandiangan, Lambok Siregar, Yman Munthe, Jevri Manik, dan Bumi Simorangkir, anak Togu yang berumur 8 tahun. Dari latar belakang yang beragam mulai dari petani, guru, penjahit, kaum difabel dan lainnya.

Setiba di Jakarta mereka sama sekali tak bisa menuju istana. Polisi menghadang dan membawa mereka ke Wisma Atlet untuk isolasi. Long March jalan ke Istana pun berakhir di Bundaran Senayan, menyisakan 8 kilometer tersisa menuju kediaman presiden.

“Setelah disetop ratusan polisi di Tugu Pemuda (Bundaran Senayan), dengan senjata lengkap, lalu kami dipaksa untuk swab antigen, 22 orang diperiksa,” jelas Togu Simorangkir.

Ia curiga karena dari semua orang yang diswab antigen, hanya Togu yang mendapatkan hasil reaktif covid. Sehingga mereka pun diboyong ke Wisma Atlet. Akan tetapi, sesampainya di Wisma Atlet pun tidak jelas bagaimana nasib mereka.

Namun mereka belum putus asa dan masih bertahan di Jakarta untuk menunggu diizinkan bertemu presiden. “Tim 11 akan stay di Jakarta sampai Pak Presiden punya waktu untuk bertemu. Kalau enggak ketemu, ya enggak pulang kami. Aku akan terus menunggu,” kata Togu.

Wakil Ketua AMAN, Abdon Nababan, juga telah mengirim surat langsung ke istana pada Senin (26/7). Surat juga telah tercatat dalam sistem elektronik di Kementerian Sekretariat Negara.

Permasalahan masyarakat adat Toba dengan PT. TPL berpuncak pada 18 Mei 2021 lalu. Bentrok antara warga masyarakat adat Natumingka di Kabupaten Toba, Sumatera Utara, dengan PT TPL yang ingin menanam benih Eucalyptus di lahan mereka.

Konflik yang awalnya hanya cekcok adu mulut berakhir dengan baku hantam. Puluhan warga Natumingka pun mengalami luka-luka akibat dilempar batu dan kayu.

Atas dasar kekecewaan yang sudah memuncak, mereka sepakat untuk berangkat long march menuju Jakarta. Namun, bukannya bertemu Presiden sesampainya di Jakarta mereka malah dihadang oleh polisi dan dibawa ke Wisma Atlet.

“Aksi ini bentuk kegeraman dan kemuakan terhadap TPL yang selalu semena-mena terhadap masyarakat adat,” ucap Togu Simorangkir dalam konferensi pers bertajuk ‘Penyambutan TIM Aksi Jalan Kaki #TutupTPL dari Toba ke Jakarta’ pada Jumat (30/7)

Melansir dari Tribun Medan, pada hari Rabu (28/7), Tim 11 sebenarnya sudah ditawarkan untuk bertemu dengan pihak pemerintah. Akan tetapi, ajakan tersebut ditolak karena pemerintah hanya memperbolehkan 3 orang untuk bertemu dengan Presiden.

Togu juga mengatakan bahwa aksi ini barulah awalan. Jika Presiden tidak menerima, mereka akan menempuh cara-cara lain seperti melakukan class action dan upaya lainnya demi menutup PT TPL.