Hooking Candiru. Sumber : citizenlab.ca

Software mata-mata buatan  perusahaan Israel, Candiru, beroperasi di Indonesia. Perangkat lunak ini menginfeksi perangkat korban yang mengakses situs-situs palsu yang dibuat sebagai jebakan.

Lembaga Riset Citizen Lab mengungkapkan operasi software mata-mata buatan Candiru, perusahaan asal Israel, di Indonesia. Software ini ditengarai banyak digunakan pemerintahan sejumlah negara dunia untuk memata-matai aktivis dan politisi di berbagai negara.

Hasil penelusuran lembaga tersebut, software tersebut mampu menginfeksi perangkat Android, iPhone, dan juga Mac.Infeksi terjadi ketika perangkat-perangkat itu mengakses situs yang tersambung dengan software mata-mata ini. 

Citizen Lab menemukan keberadaan situs Indoprogress.co terhubung dengan software tersebut. Situs tersebut tampak seperti tiruan dari media kiri Indoprogress, sebuah situs media pemikiran progresif yang kerap mengkritik pemerintah, yang aslinya hadir dengan indoprogress.com.

Selain itu, beragam situs tiruan milik organisasi masyarakat sipil atau media, seperti Amnesty International atau Euro News ditengarai terhubung dengan software mata-mata ini. 

Keberadaan software buatan Candiru ini menambah daftar jumlah sistem mata-mata digital asal Israel lainnya yang disebut-sebut juga beroperasi di Indonesia, yakni Pegasus. Software mata-mata buatan perusahaan NSO Group ini, seperti yang juga dibedah Citizen Lab, digunakan untuk menyerang perangkat komunikasi milik aktivis, wartawan, dan politisi di Indonesia.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) tengah menelusuri siapa yang mengoperasikan  software buatan Candiru di tanah air.

Citizen Lab mengungkap klien utama perusahaan yang tak diketahui keberadaan lokasi kantornya ini adalah pemerintahan negara-negara. Hanya saja, investigasi tersebut tak menyebut detail negara mana saja yang menjadi klien perusahaan tersebut. 

Sementara itu, penelusuran Forbes pada 2019 menyebut perusahaan ini masih memiliki keterkaitan dengan NSO Group. Sumber laporan itu menyebut salah satu penyokong dana Candiru juga pendiri NSO, yakni Omri Lavie. Meski begitu, NSO Group membantah hal tersebut.

Mitra investigasi Citizen Lab, yakni Microsoft , menyebutkan setidaknya terdapat 100 korban software ini. Para korban yang berasal dari sejumlah negara, seperti Palestina, Spanyol, Turki, Lebanon, Singapura, Yaman, Armenia, Inggris, serta Israel ini rata-rata memiliki latar belakang wartawan, aktivis HAM, dan juga politisi. Software mata-mata ini pun mengancam kebebasan masyarakat sipil.