Sudah lewat dua tahun kematian Kahar, warga Kelurahan Bara Baraya, Makassar, Sulawesi Selatan masih saja tak jelas. Pagi dijemput polisi, sorenya sudah mati. 

Adik Kahar, Ernawati, sudah tak tahu lagi pergi kemana untuk mencari kejelasan kematian kakaknya pada 24 Juli 2019 silam. Entah sudah berapa kali ia bolak-balik ke Markas Polda Sulawesi Selatan. Tetapi tak ada satu jawaban penjelas pun kenapa kakaknya mati di kantor polisi itu. 

Erna menceritakan lika-likunya mencari kejelasan kematian kakaknya kepada Pendiri Lokataru, Haris Azhar melalui channel youtube-nya, kanal orang-orang yang terpinggirkan, #knalpot [ada 12 Juni lalu. 

Rencananya ia akan datang ke Divpropam Mabes Polri dan memberitahu bahwa ia telah menjalankan proses agar kematian kakaknya yang janggal tersebut diselidiki dan meminta kejelasan atasnya. 

Ini adalah kali keduanya Erna berbicara dengan Haris. Sebelumnya ia sudah berbicara melalui kanal yang sama pada Mei 2021 melalui video call. 

Kasus ini bermula pada 24 Juli 2019, polisi datang menangkap Kahar atas alasan yang tidak jelas, tanpa surat penangkapan, pada jam delapan pagi. Tak hanya itu, barang-barang Kahar diantaranya 3 unit sepeda motor dan helm juga diambil. 

Mendapatkan kabar ini, ia langsung mencari kakaknya ke posko polisi sekitar. Kemudian ia melihat motor kakaknya terparkir di Posko Resmob Polda Sulsel. Ketika ia tanya apakah kakaknya berada disana, pihak polisi menjawab status kakaknya dalam pengembangan.

Tanpa curiga Ernawati pun pulang ke rumah. Tapi di tengah jalan ada kabar bahwa Kahar sudah meninggal dunia dan berada di RS Bhayangkara Makassar. Sesampainya disana ia tidak diperlihatkan langsung mayatnya.

Ernawati meminta pihak rumah sakit mengotopsi mayat kakaknya. Tapi polisi terus membujuknya untuk tak diotopsi dan bilang kemungkinan kakaknya mati karena narkoba. Baru di rumah sakit juga Erna dijelaskan bahwa kakaknya ditangkap akibat kasus pencurian.

Tidak ada rasa curiga Erna sedikitpun kepada pihak kepolisian saat itu. Ia bahkan menuruti permintaan polisi agar tidak melihat mayat Kahar karena banyak media disana. Di rumah duka, Ernawati terkejut saat melihat ternyata jenazah Kahar memiliki kondisi yang penuh luka-luka dan memar.

Ia menduga kakaknya mengalami penyiksaan sebelum meninggal. Ada banyak jejak kekerasan di jenazah Kahar, seperti memar di kepala. 

Saat menjalani proses kasusnya pun Ernawati merasa digantung oleh pihak kepolisian. Bahkan tidak hanya sekali ia diajak untuk menempuh jalan damai dan mengakhiri kasus ini.

Namun berlalunya waktu tak juga membuat perkara ini jadi terang. Padahal Erna tak buta-buta amat soal relasi para polisi, ia sendiri istri seorang polisi. Hingga kini masih belum jelas mengenai kejelasan mengenai kematian Kahar. Ia sendiri mengaku bahwa perjalanannya ke Jakarta adalah upayanya terakhir dalam mencari keadilan.

“Suami saya tanya ‘kalau kamu sudah sampai mabes, lantas kamu masih dipermainkan seperti di Polda Sulsel apa yang kamu lakukan mah?’ Berarti memang sudah tidak ada keadilan di Indonesia, biar Allah yang balas,” ucap Ernawati terisak.