Ruang perawatan sepi tenaga kesehatan, mereka kelelahan, sebagian terpapar Covid-19, dan sebagian lagi meninggal. Keluarga pasien pun harus mengurus sendiri sanak saudaranya yang terpapar Covid-19.

Hendrianto Abu Bakar duduk diantara puluhan penderita Covid-19 dan keluarganya di ruang UGD RS. Hermina Bekasi. Matanya tak pernah lepas melihat nafas ayahnya, Hendro Hermanto, kembang kempis di atas ranjang perawatan. Setiap kali ayahnya muntah atau buang air, ia pun langsung membersihkannya. 

Tak ada lalu lalang tenaga kesehatan di ruang itu. Mereka hanya datang ketika jam minum obat, kalau ada yang minta ganti infus, atau bahkan kalau pasien sudah meninggal. Selebihnya urusan keluarga seperti yang Hendri lakukan.

“Saya tidak main-main dalam melindungi diri disana, masker dua lapis, sarung tangan latex dan membersihkan sampah buangan menggunakan desinfektan,” kata dia.

Kekurangan tenaga medis dialami oleh seluruh fasilitas kesehatan. Hendri pun tak mengeluh, ia paham para perawat sudah kelelahan bahkan beberapa sudah tumbang. Perawat yang datang pun tak pernah mengembangkankan senyum, hanya memberikan kebutuhan perawatan lantas pergi tanpa bertanya soal keluhan. 

Kelelahan bukan satu-satunya yang dialaminya. Hendri harus berhadapan dengan ngerinya suara sakaratul maut. 

Suatu malam ada bayi yang terpapar Covid-19 menangis tanpa henti. Tangis itu berhenti lalu tenaga medis datang. Tak lama mereka keluar mendorong bed tempat bayi itu dengan kain menutup dari kepala sampai kaki, mati. 

“Jadi waktu itu ada bayi, umurnya baru tiga minggu terpapar covid-19. Awalnya waktu dirawat bayi itu menangis kencang sekali. Lalu, suara tangisan itu perlahan-lahan semakin pelan. Sampai pada akhirnya tangisan itu diam,” kata Hendri.

Hendri diam, harapan hidup sepertinya tipis di ruangan itu. Itu pun ia tergolong beruntung karena mendapat bed

Sebelum masuk ke rumah sakit, ayahnya ia sempat kesana-kemari mencari ruang perawatan. Begitu masuk antrian RS Hermina, Hendri pun menyewa tempat tidur yang disediakan oleh Ambulance dengan harga 200 ribu rupiah per jamnya dari jam 4 sore hingga jam 10 pagi keesokan harinya.

Ayah Hendri sendiri sembuh setelah 8 hari perawatan. Kini ia sudah berada di rumah dengan kondisi yang stabil.

Kejadian seperti Hendri, tidak hanya dirasakan olehnya sendiri. Jagad maya juga sempat dihebohkan dengan kondisi ruang isolasi yang tidak didampingi oleh nakes di RS Dokter Darsono, Pacitan, Jawa Timur. 

Dalam video tersebut terlihat tidak ada satupun tenaga kesehatan yang mendampingi pasien. Video itu juga sempat merekam salah satu pasien yang sedang berada dalam keadaan kritis dan kekurangan oksigen namun tidak menemukan satupun petugas medis.

Kondisi ini bertolak belakang dengan klaim ucap syukur pemerintah menurunnya penggunaan tempat tidur rumah sakit dan kasus covid yang menurun. Angka-angka statistik cenderung tidak menunjukan keadaan nyata di lapangan yang begitu pelik.

Penambahan tenaga kesehatan (nakes) sendiri memang digalakkan. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan akan memenuhi keperluan nakes sebanyak 3.000 dokter dengan menggunakan data sejumlah 3.900 dokter yang masih melakukan pemagangan.

Sementara di satu sisi, hak-hak nakes sendiri belum dipenuhi. Eva Sri Diana Chaniago, Ketua Dokter Indonesia bersatu mengatakan bahwa banyak nakes memilih resign akibat beban kerja yang tinggi dan insentif yang mandek. Bahkan, banyak juga dokter-dokter baru yang mengundurkan diri karena jumlah pasien covid-19 yang terlampau banyak.

Selain itu, Sekretaris Jenderal Persatuan Rumah Sakit Indonesia, Lia G. Partakusuma, mengatakan bahwa rumah sakit kesulitan menambah nakes sekarang ini. Bukannya, bertambah jumlah nakes malah berkurang. Hal ini dikarenakan para tenaga kesehatan ikut terpapar covid-19 sehingga harus menjalani perawatan.

Meski sudah ditambah tenaga kesehatan muda dan TNI/Polri, Lia mengatakan masih saja terjadi kekurangan tenaga kesehatan untuk menghadapi pandemi ini. Seharusnya jumlah pasien yang harus dikurangi.

Selain itu pula, berkurangnya jumlah nakes diakibatkan karena kematian akibat covid-19. Pada tanggal 5 Juli 2021, tercatat 1.031 nakes gugur selama pengabdiannya baik itu dokter, perawat, maupun bidan.

Ketua Departemen Epidemiologi Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, mengatakan bahwa langkah pemerintah sebetulnya sudah betul dalam menambah faskes dan nakes saat ini. Tetapi, yang seharusnya pemerintah lakukan adalah memberikan kepastian kepada para nakes soal pembayaran.

“Bayarannya harus standard tidak boleh kurang. Kalau belum dibayar uang misalnya dengan kwitansi dulu sebagai bukti bahwa mereka akan dibayar. Pencairannya kan pemerintah memang lambat ya. Intinya mereka (nakes) perlu kepastian,” kata Miko.