23 massa aksi yang dibebaskan (dokumentasi BEM Uncen)

Bentrok antara aparat kepolisian dan mahasiswa terjadi di Papua. Sejumlah mahasiswa mengalami luka-luka karena pemukulan dan kekerasan.

Bentrok ini terjadi saat pembubaran aksi penolakan Otonomi Khusus Volume 2 di Universitas Cenderawasih Waena dan Abepura, Papua pada Rabu (14/7). Keterangan pers yang diterima hakasasi.id menyebutkan bentrok bermula ketika mahasiswa berkumpul di dua kampus tersebut dan berencana menggelar aksi di gedung DPRD Papua

Polisi melakukan pembubaran paksa dan menangkap mahasiswa yang berada di kedua kampus tersebut pada pukul 10.20. Tak hanya menangkap, polisi juga melakukan pemukulan terhadap mahasiswa yang memakai jaket almamater. 

Mahasiswa Uncen Abepura bahkan disisir hingga polisi masuk wilayah kampus. Bentrok ini mengakibatkan empat orang mahasiswa Uncen terluka dan 23 orang massa aksi ditangkap oleh pihak kepolisian.

Nikson Hesegem, Wakil Ketua BEM Uncen, mempertanyakan tindakan sewenang – wenang polisi dalam pembubaran aksi. 

“Tidak ada negosiasi sama sekali sebelum menangkap. Padahal, saat melakukan demokrasi pakai masker, protokol kesehatan dilaksanakan. Tapi dibubarkan begitu saja. Semua massa aksi pakai masker,” jelas lelaki berumur 23 tahun tersebut kepada hakasasi.id.

Bentrok mulai mereda saat anggota DPR Papua, Laurens Kadepa, mendatangi mahasiswa dan mendengarkan aspirasi mereka. Tetapi beberapa demonstran terlanjur ditangkap dan mengalami luka-luka. Sebanyak 23 orang massa aksi sudah dibebaskan pada pukul 17.47 WIT.

Aksi unjuk rasa digelar sebagai reaksi atas penetapan draft revisi Otonomi Khusus Papua oleh pemerintah dan parlemen di Jakarta. Padahal menurut Nikson dan kawan-kawannya Otsus selama ini telah gagal memberikan kesejahteraan pada warga Papua. 

“Berdasarkan beberapa kajian yang dilakukan, Otsus itu sebenarnya gagal. Tapi, pemerintah pusat memaksakan Otsus dan dianggap sukses. Padahal, dilihat daripada rakyat Papua kewenangan hak penuh orang Papua mensejahterakan orang Papua sementara ini belum berjalan dengan baik. Oleh karena itu seluruh rakyat Papua menolak Otsus,” jelasnya.