Sumber foto : pikiranrakyat.com

Ancaman Risma untuk membuang PNS yang tak becus bekerja ke Papua dianggap sebagai bentuk rasisme. Sikap ini dianggap masih terpelihara di antara pejabat pemerintah

Amarah Risma yang mengancam memindahkan PNS tak becus ke Papua berbuntut panjang. Kalimat itu dianggap rasis karena menganggap Papua sebagai tempat pembuangan PNS yang tak profesional. 

Eks komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengaku kecewa dengan ucapan Risma tersebut, karena menganggap Papua tempat buangan bagi PNS yang tak becus bekerja. Ia menganggap ada latar belakang rasisme sistematis atas ucapan itu. 

“Rasisme sistematis terus berlangsung dan otak-otak rasis ini masih dipelihara, diberi jabatan dan kekuasaan,” kata Natalius kepada Hakasasi.id, Rabu (14/7).

Senada dengan Natalius, aktivis Veronica Koman juga menilai paham rasisme masih terpelihara baik di kalangan ASN dan aparat. “Kalau Papua itu tempat hukuman, tempat buangan, yang orang-orang seken lah ibaratnya ditaruh di Papua,” kata Veronica, kepada Tempo.

Sementara Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara menilai Papua bukanlah tempat pembuangan. “Papua bukan tanah kosong, bukan tempat pembuangan dan penghukuman bagi mereka yang dianggap tidak bisa bekerja. Papua setara dan sederajat dengan daerah lain di Indonesia,” kata Beka kepada Kompas.com.

Adapun Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid meminta Risma segera meminta maaf terkait ucapannya tersebut. “Sebelum terlambat dan semakin kemana-mana, sebaiknya segera mencabut, minta maaf secara tulus, dan tak mengulangi pernyataannya sangat tidak bertanggungjawab. Kinerjanya musti ditingkatkan, tanpa marah-marah tersebut,” katanya kepada Kompas TV.

Ancaman kepada pegawai Kemensos diucapkan Risma saat berkunjung ke Balai Disabilitas Wyata Guna, di Bandung, Rabu (13/7).

Ia menyatakan tak ingin melihat pegawai Kemensos tak disiplin bekerja. Risma mengancam bakal memutasi pegawai yang tak disiplin bekerja ke Papua.