Sumber foto : hai.com

Protes dan aksi mahasiswa terbukti ampuh ‘mengganggu’ rezim di berbagai negara. Gerakan mahasiswa di Indonesia sendiri kini sedang getol memprotes inkonsistensi presiden dalam berbagai isu, termasuk penanganan pandemi Covid-19. 

Poster bertajuk ‘Jokowi King of Lips Service’ yang diunggah BEM UI melalui akun instagramnya pada Sabtu lalu (26/6) memantik aksi kritik serupa oleh mahasiswa perguruan tinggi lain. Aliansi Mahasiswa UGM misalnya turut memberikan gelar Juara Umum Lomba Ketidaksesuaian Omongan dan Kenyataan. Lantas BEM Seluruh Indonesia (SI) misalnya menyerukan aksi turun ke jalan dengan pertimbangan protokol kesehatan.

Poster itu merupakan rangkaian protes inkonsistensi antara ucapan dan tindakan Presiden Joko Widodo terhadap beberapa masalah penting, seperti penguatan KPK dan revisi UU ITE yang mengancam kebebasan berpendapat.

Aksi protes mahasiswa ini boleh jadi merupakan bagian dari aksi menuntut perubahan di Indonesia. Mereka sudah terlibat dalam aksi di tahun-tahun sebelumnya seperti Aksi Reformasi Dikorupsi pada 2019 ketika revisi UU KPK disetujui DPR dan pemerintah serta pengesahan Omnibus Law pada 2020.

Gerakan mahasiswa jelas tak bisa dianggap enteng. Banyak gerakan – gerakan yang dipimpin pelajar terjadi di Asia, mampu menarik perhatian dunia.

Berikut sejumlah aksi pelajar di Asia yang mencoba melawan rezim yang tengah berkuasa.

Korea Selatan

Sumber Foto : www.scmp.com

Sebuah skandal di kampus khusus perempuan ternama di sebelah barat Seoul, Ewha Woman University jadi salah satu titik awal tumbangnya Presiden Park Geun-hye.  Mahasiswi di kampus tersebut curiga dengan sebuah program studi baru yang didanai oleh pemerintah Korsel. Para mahasiswi pun memprotes program studi tersebut, dan menyebut program tersebut sebagai bentuk komersialisasi kampus. 

Meski belakangan program tersebut dibatalkan, para mahasiswi tak puas dan meminta pengunduran presiden kampus. Ini tak lepas dari kecurigaan para mahasiswi dengan perlakuan khusus pihak kampus pada Chung Yoo-ra, putri orang dekat sang presiden, Choi Soon-sil, yang belakangan diketahui banyak mempengaruhi kebijakan Park Geun-hye.

Temuan skandal “teman dekat” presiden ini menjadi salah satu titik awal gelombang protes warga Korsel yang terus memuncak di akhir 2016. 

Bulan November 2016, para pelajar SMA pun turun ke jalan bersama warga dalam protes anti-Park.

Warga pun turun dalam aksi lilin yang dihadiri jutaan warga dan dilaksanakan setiap akhir pekan Sejak November 2016 hingga Maret 2017, kala Mahkamah Konstitusi memutuskan memecat Park Geun-Hye. Aksi penuntutan terhadap pengunduran diri Park Geun-hye ini dianggap sebagai salah satu protes damai yang turut mengawal tumbangnya presiden berkuasa.

Hongkong

Time dalam laporannya menulis bahwa inti gerakan perjuangan menentang hukum ekstradisi ke Cina daratan yang bergelora di Hongkong sepanjang 2019-2020 tak lain adalah para pelajar SMA dan universitas. Bersama kelompok masyarakat sipil lain mereka menentang undang-undang tersebut yang dianggap bakal membuat rentan warga Hongkong yang kritis terhadap Beijing bakal dengan mudah dilempar ke Cina daratan untuk mendapat hukuman.

Kampus seperti The Hong Kong Polytechnic University (PolyU) menjadi benteng pertahanan para peserta aksi, di mana mereka membuat dapur umum bagi peserta aksi, serta mahasiswa menjaga barikade pertahanan menggunakan panah.

Namun, gerakan pro demokrasi di Hongkong kini kini mulai keropos kala aparat mulai menangkap satu per satu aktivis.

Sumber foto : theguardian.com

Thailand

Sumber foto : prachatai.com

Di masa pandemi, Thailand kembali bergejolak. Gerakan yang didorong para pemuda mengajukan sejumlah  tuntutan yakni mundurnya  perdana menteri dari latar militer Prayuth Chan Ocha, pembatalan undang-undang lese majeste atau beleid penghinaan terhadap kerajaan, serta reformasi di tubuh monarki.

Salah satu pemicu aksi protes terhadap rezim adalah upaya pembubaran partai Future Forward Party pada Februari 2020.  Partai ini dikenal kritis terhadap Prayuth.

Seruan reformasi di Thailand disuarakan para pelajar. Pada September 2020, puluhan ribu mahasiswa berkumpul di Universitas Thammasat dan menyuarakan 10 tuntutan reformasi monarki.

Meski begitu, menurut Thitinan Pongsudhirak dari Universitas Chulalongkorn gerakan mulai melemah di akhir 2020, kala sejumlah tokoh kunci dalam aksi ditangkap dan terpecahnya kelompok gerakan.

Myanmar

Awal 2021 Myanmar bergejolak lantaran militer mengkudeta pemerintahan yang sah. State counsellor  yang juga pemimpin partai berkuasa National Democratic League ditangkap Februari 2021.

Para pelajar, pengajar, bersama tenaga kesehatan merupakan pihak yang memimpin protes turun ke jalan terhadap militer yang merebut kursi kekuasaan pemerintahan yang dipilih melalui pemilu tersebut.

Sebagian mahasiswa malah bergabung dengan kelompok etnis bersenjata. Myanmar memang dikenal memiliki sekitar 20 kelompok etnik bersenjata yang tersebar di sejumlah perbatasan dengan negara tetangga.

Pada April 2021 para mahasiswa juga menunjukkan protes dengan bolos pada pelajaran di saat pemerintah membuka lagi kelas-kelas universitas yang sempat ditutup lantaran pandemi Covid-19.

Hingga kini aksi menentang pemerintahan militer masih berlanjut.

Sumber foto : nyt.com