Sumber foto : wikimedia.commons

Belanja ke pasar tradisional jadi rutinitas anyar Tihfah Alita (28) sejak ia jadi pengantin baru di masa pandemi ini. Periset isu sosial dan HAM yang bermukim di kawasan padat Cipete, Jakarta Selatan, itu setidaknya punya dua tujuan belanja, yakni Pasar Cipete dan Pasar Cipete Selatan.

Pasar Cipete yang berdiri di wilayah toko dan kantor adalah tempat ia mencari bahan lauk pauk seperti daging sapi, ayam, dan ikan. Sementara Pasar Cipete Selatan yang berada di dekat pinggir jalan raya ini adalah tujuan membeli sayur dan buah-buahan.

Sebelum menikah, pasar tradisional bukan tujuan utama Tihfah berburu kebutuhan dapur. Supermarket-lah yang jadi opsi utama tempat belanjanya. Alasannya kini beralih jadi pengunjung setia pasar tradisional sederhana saja: soal harga.

Harga barang yang lebih terjangkau membuat pasar tradisional dilirik sebagai tujuan belanja sehari-hari, terutama di masa krisis akibat pandemi ini.

Ia pun mencontohkan: “Misalnya Pisang Sunpride itu di pasar harganya cuma dua sampai empat ribu (per buah) ukuran paling besar ya. Sedangkan di pasar lu dapet satu buah bisa sampai 3 ribu sampai 8 ribu untuk ukuran besar.”

Perbedaan harga juga ia temukan untuk produk lauk pauk sehari-hari seperti ayam.Gue pindah dari supermarket ke pasar karena nilai ekonomis sih,” kata Tihfah.

Tak hanya soal harga, Tihfah merasa nyaman dengan keakraban yang terjalin dengan pedagang. “Gue nemuin vibe yang gue nggak temui di supermarket, gue masih bisa nawar, bisa ada interaksi. Dan bisa update harga dari mereka,” kata Tihfah.

Rouzell Waworuntu (26), seorang art director di sebuah agensi periklanan di Jakarta, juga memilih pasar untuk membeli kebutuhan pangan sehari-hari. Sebagai warga yang bermukim di Senen, Jakarta Pusat, Rouzell bisa dua kali pergi ke Pasar Senen dalam sepekan untuk belanja kebutuhan pangan seperti daging sapi ayam, buah, dan sayur mayur. Harga produk lauk pauk dan sayur mayur ini yang faktor yang membuatnya lebih memilih pergi ke Pasar Senen daripada harus pusat belanja lainnya, seperti supermarket.

Pasar tradisional memang punya daya tariknya sendiri. Tak kalah menarik meski supermarket-supermarket yang lebih modern hadir dekat dengan pemukiman penduduk.

Bhima Yudhistira Adhinegara – INDEF

“Karena pasar tradisional adalah tempat penjualan barang-barang pokok dan secara kelengkapan pasar tradisional juga semakin lengkap ya, belanjaan yang termasuk grocery, nah itu sehingga akhirnya masyarakat memang memilih pasar tradisional,” kata Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira kepada hakasasi.id.

Bhima menambahkan pasar kini menjadi salah satu pilihan pas untuk berbelanja di kala perekonomian masih dilanda krisis akibat pandemi.

Tingkat daya konsumsi masyarakat memang melemah selama pandemi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat akibat pandemi realisasi konsumsi rumah tangga nasional selama 2020 berada di posisi minus 2,63 persen. Kepala BPS Suhariyanto menyebut pandemi membuat mobilitas masyarakat menurun dan berujung pada hilangnya penghasilan.

Bhima menilai pasar tradisional jadi pilihan realistis bagi warga untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, sementara menanti perekonomian pulih. “Saya melihat ada optimisme ya, bahwa ambruknya retail-retail skala besar menjadi momentum juga untuk kembali mencintai pasar tradisional. Dengan biaya yang lebih murah dan disesuaikan dengan masalah daya beli masyarakat ini,” kata Bhima.