Waktu di ruang penyidik, saya belum diwawancara tapi Berita Acara Penyidikan (BAP) sudah direkayasa dan di-print. Lalu ga lama ada banyak oknum aparat masuk dan saya diintimidasi secara verbal. Salah satu yang Sonny Siregar (Kasat Lantas Medan),” — Benni Eduward

Kalimat itu meluncur dari mulut Youtuber Benni Eduward ketika wawancara dalam akun Segmen #KNALPOT di akun youtube Haris Azhar. Kasus pencemaran nama baik yang menjeratnya hingga ke balik jeruji penuh dengan rekayasa. Manipulasi sudah dilakukan sejak ia menjalani pemeriksaan pertama. 

Selanjutnya proses persidangan pun ia rasa juga cukup janggal. Misalnya saja dalam penyajian bukti.

“Video yang menjadi barang bukti utama dari kasus ini ga pernah diputar selama persidangan online. Kami sudah mengajukan permintaan tapi terus ditolak,” sambung Benni. 

Padahal video itu penting karena sama sekali tidak menyebutkan nama pemilik kendaraan. Hanya plat mobil yang disebutkan setelah Benni melakukan pengecekan di situs daring e-samsat milik Badan Pajak Provinsi Sumut.

Menurut dia argumen dan kritik yang disampaikan oleh Benni di video memiliki dasar kuat yang menyatakan bahwa pemilik kendaraan telah lalai membayar pajak. 

“Semua permintaan mediasi yang diajukan sebanyak 3 kali tidak diterima oleh pengadilan. Bukti-bukti yang mendukung kami pun tidak dihiraukan oleh hakim selama persidangan, argumen hakim saya tetap bersalah karena telah mempermalukan aparat pemilik kendaraan,” sambung dia. 

Kasus ini sendiri berawal dari kritik Benni kepada aparat yang menunggak pembayaran pajak kendaraan. Ia dan rekannya, Joniar, dilaporkan oleh kerabat ‘korban’ dan terjerat UU ITE dengan ancaman 16 tahun penjara. 

Selama 8 bulan di bui, intimidasi terus menemani perjalanan Benni dalam mencari keadilan. Benni kerap mendapat intimidasi dan keluarganya pun diperas untuk terus mengirimkan uang demi keselamatan Benni.