Nasib Benni Eduward, youtuber asal Medan, ibarat jatuh tertimpa tangga. Ia adalah korban UU ITE sekaligus pungli ketika mendekam di penjara. 

Praktik pungutan liar terungkap dari pengakuan istrinya, Fitra Aria. Ia mengaku ditelepon dan diminta untuk mengirimkan uang jaminan keselamatan nyawa suaminya. 

“Jika saya menolak untuk transfer uang, suami saya biasanya langsung ditelanjangi, dipukul dan diberi hukuman semalam penuh. Kalo saya bertanya uangnya untuk apa, mereka cuma jawab ini titipan oknum,” ungkap Fitra getir. 

Pengakuan blak-blakan Fitria ini dilakukan melalui akun youtube Haris Azhar dalam segmen #KNALPOT. Ia menyebutkan selama suaminya ditahan, dia kerap mendapat telepon pada tengah malam untuk mengirim sejumlah uang.

“Sejak 5 menit setelah ditahan di Polresta Medan, suami menelpon adik ipar pakai nomor yang ga dikenal. Di situ dia minta uang sebesar Rp 2 juta ditransfer ke rekening orang lain. Katanya uang untuk kamar, kebersamaan, keamanan dan kesehatan,” ungkap Fitra

Jumlah uang yang diminta berbeda tiap harinya. Malam setelah ditahan, Benni kembali meminta uang sebesar Rp 500 ribu dan pada keesokan harinya, ada oknum yang kembali minta pengiriman uang sebesar Rp 1 juta. 

Kejadian itu terus berulang, hingga Fitra menghabiskan uang lebih dari Rp 7 juta demi keselamatan suaminya. 

Tapi uang itu tak menghentikan intimidasi, Fitra sendiri kerap mendapat ancaman tiap kali ada oknum yang meneleponnya. 

Pemerasan dan ancaman ini baru berhenti ketika Fitra melapor ke Ombudsman Medan. Lembaga itu kemudian pemindahan Benni ke blok tahanan lain. 

Sebelumnya Benni bersama rekannya, Joniar, dinyatakan sebagai tersangka karena mengunggah video yang menyebut personel kepolisian menunggak pembayaran pajak kendaraan bermotor. 

Video tersebut dianggap sebagai bentuk penyebaran berita bohong (SARA) dan melanggar Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Padahal apa yang dilakukan keduanya adalah bentuk kebebasan berpendapat dan menyampaikan kritik.