ilustrasi peretasan (sumber: NewsInHeadline)

Sejumlah aktivis dan pegiat anti korupsi yang mempertanyakan soal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) mengalami serangan digital dan teror telepon dari orang tak dikenal pada Senin (17/5). Serangan ini dilakukan tepat sebelum Presiden Joko Widodo menyatakan TWK tidak boleh menjadi dasar pemecatan 75 pegawai KPK. 

Informasi yang dihimpun Hakasasi.id serangan digital dan teror telepon ini diantaranya dialami oleh Egi Primayogha (ICW), Lalola Easter (ICW), Adnan Topan Husodo (ICW), Almas Sjafrina (ICW), Busyro Muqoddas (eks pimpinan KPK), serta Bambang Widjojanto (eks pimpinan KPK). Beberapa aktivis hak sipil seperti Charlie Albajili (LBH Jakarta) dan Fian Alaydrus (Lokataru Foundation) juga mengalami hal yang sama. 

Adnan Topan Husodo menyebutkan melalui facebooknya bahwa akun WhatsAppnya-nya telah diretas dan tak bisa diakses. Egi Primayogha menyatakan mengalami hal sama, upaya peretasan ini dialaminya sekitar pukul 14.10 WIB. 

Aktivis lain pun mengalami hal serupa. Fian Alaydrus mengungkap aplikasi whatsapp miliknya tidak bisa diakses sekitar pukul 13.00 WIB dan setelah bisa diakses, puluhan panggilan telepon dari nomor tak dikenal masuk ke telepon genggamnya. . 

“Sejak saya berhasil masuk ke akun WA saya, kemudian telepon panggilan terus menerus berdatangan,” kata Fian kepada Hakasasi.id.

Serangan terhadap para aktivis ini terjadi di tengah ramainya kontroversi TWK. Tes ini merupakan salah satu asesmen peralihan status pegawai KPK menjadi aparatur negara. Kelompok masyarakat sipil menilai tes tersebut hanya akal-akalan untuk penyingkiran 75 pegawai yang tengah menangani kasus korupsi besar. 

Serangan ini juga terjadi hampir berbarengan dengan momen Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa TWK tersebut tak bisa menjadi dalih pemberhentian para pegawai KPK.