(oleh Aris Santoso, pengamat militer)

Gugurnya Brigjen I Gusti Putu Danny  Nugraha Karya (Danny, Akmil 1993), Kepala BIN Daerah (Kabinda) Papua, pada hari Minggu (25 April), selain mengundang keprihatinan, juga mengejutkan.  Sekadar perbandingan, dalam konflik separatis di Aceh dan Timor Timur di masa lalu, yang durasinya begitu panjang, belum pernah terjadi perwira berpangkat brigjen tewas, bahkan seorang kolonel sekalipun.

Dalam masa konflik Timor Timur dan Aceh, perwira berpangkat brigjen lebih banyak berada di markas, sebagai Panglima Komando Operasi, jarang sekali terjun langsung ke lapangan (battle area). Pangkat tertinggi di lapangan adalah mayor atau letkol, dalam posisi Komandan Bataliyon, itu sebabnya tidak pernah terjadi seorang brigjen tewas.

Bagaimana Brigjen Danny bisa tertembak, ini juga sebuah pertanyaan penting. Bagaimana mungkin seorang perwira Kopassus, bisa tewas dengan cara seperti itu. Dalam pertempuran pada umumnya, posisi danyon atau danki (komandan kompi, pangkat kapten) selalu terlindungi, sementara ini seorang perwira tinggi, bisa jadi ada yang salah dalam hal prosedur dan taktis.

Peristiwa gugurnya Mayjen (Anumerta) Danny, mengingatkan bagaimana  pasang surut hubungan Kopassus dengan wilayah Papua, seperti ada hubungan istimewa antara keduanya.  Salah  satu penandanya adalah  Monumen Benny Moerdani di Merauke. Monumen tersebut berdiri sejak 1989, sebagai peringatan atas operasi penerjunan di belantara Merauke ( Operasi Naga, 1962),  di bawah pimpinan (pangkat saat itu) Kapten Inf. Benny Moerdani. Begitu bermaknanya operasi tersebut, di Merauke terdapat juga seruas jalan yang diberi nama Para Komando, sebagai bentuk penghormatan pada RPKAD (nama terdahulu Kopassus).

Tim Maleo

Kopassus seolah memiliki hubungan yang unik dengan tanah Papua, dengan segala romantika dan pasang surutnya –bahwa hubungan itu tidak selamanya mulus. Benar, di kawasan selatan Papua (Merauke), Baret Merah begitu dimuliakan melalui Monumen Benny dan seruas jalan Para Komando. Namun di utara (Jayapura) ceritanya bisa berbeda. Ibarat pepatah lama: “air susu dibalas dengan air tuba”.

Setidaknya dua tokoh budaya Papua tewas di tangan anggota Kopassus, yaitu Theys Eluay (2001) dan Arnold Clemens Ap (1984, pimpinan kelompok musik Mambesak).

Dari dua peristiwa pembunuhan dua tokoh itu saja, kita bisa tahu bahwa Kopassus selalu bergerak (operasi intelijen) di Papua. Sejak lama diketahui Kopassus memiliki pos komando di Pantai Hamadi (Jayapura), meskipun di depan markasnya tidak terdapat plang nama, namun semua warga (khususnya Jayapura) sudah paham. Operasi Kopassus di Papua, biasanya dikenali dengan adanya satuan tugas (Satgas), yang secara periodik namanya diganti. Dalam jangka waktu lama pernah bernama Tim Maleo, kemudian Satgas Tribuana, dan kemudian berganti nama lagi menjadi Satgas Cenderawasih.

Tim Maleo ini memang yang paling terkenal, karena jangka waktu operasinya yang panjang, sepanjang dasawarsa 1980-an sampai menjelang era reformasi. Beberapa mantan komandannya kemudian juga menjadi figur tekenal, antara lain Zacky Makarim (Akmil 1971), Sjafrie Sjamsuddin (Akmil 1974), dan Hotma Marbun (Akmil 1977). Nama Satgas Tribuana diganti menjadi Satgas Cendrawasih, karena operasi senyapnya terhadap Theys, tersebar ke publik.

Kopassus berkepentingan mengadakan operasi (intelijen) di Papua, termasuk di Aceh dan Timor Leste di masa lalu, sebagai wilayah konflik. Selain untuk kepentingan ideologis (menjaga kedaulatan negara), ada juga kepentingan yang lebih teknis, operasi diadakan untuk keperluan memelihara kemampuan tempur anggotanya, terutama dalam operasi sandi yudha (perang rahasia). Pengalaman operasi tempur atau berdinas di wilayah konflik, selama ini juga bermanfaat dalam peningkatan karier bagi anggota Kopassus.

Begitu pentingnya penugasan di Papua bagi pembinaan karier anggota Baret Merah, saat ini saja tercatat setidaknya tiga perwira Kopassus, yang juga lulusan terbaik dari Akmil, yang sedang bertugas di Papua. Mereka adalah perwira cemerlang, yang prospek kariernya di TNI bisa dikatakan cerah, masing-masing adalah Mayjen Nyoman Cantiasa (Pangdam XVIII/Kasuari, lulusan terbaik Akmil 1990), Brigjen Bambang Trisnohadi (Kasdam XVII/Cendrawasih, lulusan terbaik Akmil 1993), dan Kol Inf Lucky Avianto (Asops Kodam XVIII/Kasuari, lulusan terbaik Akmil 1996).

Jangan korbankan prajurit biasa

Strategi  yang dipilih untuk mengatasi gerakan bersenjata di Papua, bisa menggambarkan paradigma TNI, bahwa gerakan separatis di Papua harus dihadapi dengan sistem lawan-gerilya. Sebagaimana kita ketahui operasi lawan-gerilya adalah salah satu kemampuan Kopassus. Dihubungkan dengan situasi kekinian, yang sepertinya TNI sedang bersiap mengadakan operasi skala besar, mungkinkah TNI sudah siap untuk perang waktu lama (sustainable warfare)?

Dengan memberi label “teroris” pada gerakan separatis di Papua, sama artinya memberi ruang pada TNI untuk menggelar operasi skala besar. Kita khawatir yang terjadi adalah seperti Timtim atau Aceh dulu, anggota TNI banyak korban (tewas), terutama pada prajurit rendahan. Kemudian rakyat (biasa) Papua, juga terkena dampaknya, yang akan selalu dibayangi rasa takut tak berkesudahan. Impian soal tanah Papua yang damai akan semakin jauh kita gapai.

Yonif 315/Garuda

Kekhawatiran terhadap jatuhnya korban prajurit biasa (tamtama), cukup beralasan, berdasar kenyataan medan pertempuran di Papua yang bukan main luasnya, jauh melebihi luas Aceh dan Timtim (Timor Timur). Bila saat di Aceh dan Timtim saja, prajurit TNI sudah banyak jatuh korban, apalagi di Papua yang wilayahnya lebih luas dan hutan alamnya lebih lebat. Berapa pun jumlah pasukan yang dikirim ke Papua, tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menjadi pertempuran jangka panjang, hasilnya akhirnya juga belum pasti. Pada titik ini kita ingat kembali, tentang arti penting dialog.

Kemudian bila kita perhatikan, dalam operasi kali ini, TNI juga menggunakan media sosial untuk penyebaran informasi, sesuai dengan era digital. Tapi tindakan seperti ini tidak memiliki nilai strategis, terkesan hanya “show of force” dengan hasil yang masih belum jelas. Semisal berita keberangkatan Yonif 315/Garuda (markas Kota Bogor) ke Papua, dalam berita disebutkan akan menyerbu OPM (KKB, kelompok kriminal bersenjata), dengan menyebut juga julukan satuan ini sebagai “Pasukan Setan”.

Berita keberangkatan Yonif 315 terlalu dibesar-besarkan, sebenarnya yang terjadi, pasukan ini akan menjaga perbatasan. Tugas utama adalah menjaga perbatasan, soal bertempur melawan OPM, adalah risiko tugas sebagai pasukan perbatasan. Termasuk berita keberangkatan Denjaka (Detasemen Jala Mengkara, pasukan khusus Korps Marinir), juga begitu.

Denjaka adalah satuan khusus, segala kegiatannya adalah rahasia. Berita Denjaka kemungkinan diunggah netizen yang tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya (hoax). Banyak netizen ingin tampil di media sosial dengan cara yang membahayakan, baik baik TNI maupun rakyat Papua. Kini kita sedang cemas menghadapi hari-hari gelap di Papua.