Moses Yewen (48), meninggal dianiaya aparat TNI

Dua aparat menyeret Moses Yewen ke dalam pos tentara lalu menghajarnya hingga babak belur. Moses meninggal beberapa pekan kemudian diduga karena luka penganiayaan tak mendapat perawatan.

Satu warga korban kekerasan aparat di Kabupaten Tambrauw, Papua meninggal dunia pada Jumat (7/5). Korban meninggal adalah Moses Yewen (48) asal Kampung Wayu, Distrik Fef, Tambrauw. 

Yohanis Mambrasar dari Perkumpulan Advokat Hak Asasi Manusia Papua (PAHAM Papua), melalui keterangan tertulis menerangkan Moses meninggal secara tiba-tiba setelah berpekan-pekan sebelumnya menjadi korban kekerasan aparat. Beberapa jam sebelum meninggal, Moses sempat tak bisa bangun dari tempat tidur, serta tak bisa melihat dan makan.

Moses merupakan korban kekerasan oleh aparat yang terjadi 9 April 2021 lalu. Hal ini bermula kala Moses hendak membeli makanan di sebuah rumah makan milik anggota TNI. Moses mengucapkan salam kepada dua orang di warung yang tak lain adalah petugas berpakaian biasa, yakni Prajurit Kepala Satiawan dan Sersan Kepala Adi.

Kedua aparat tersebut menanyakan maksud kedatangan Moses. Moses pun meminta Kartu Tanda Anggota kepada kedua petugas tersebut. Permintaan itu berbalas pukulan, setelahnya Moses pun sempat diseret paksa sampai ke  Pos Penugasan Daerah Rawan (Pamrahwan) Yonif RK 763 yang terletak di seberang jalan. Di dalam pos, kedua petugas lanjut menghajar Moses hingga babak belur.

Akibat kejadian itu, Moses menderita memar di bagian badan, serta luka di tangan dan kaki. Belakangan ia mengalami kesakitan di tubuh bagian dalam. Yohanis menerangkan pasca kejadian kekerasan 9 April lalu, Moses tak diobati secara serius. Meski sempat minum obat, namun rasa sakit bekas kekerasan yang terasa di bagian dalam tubuh tak ditangani secara serius.

Sebelumnya Moses sempat melaporkan dua petugas tersebut kepada Polisi Militer (POM) TNI di Sorong. Kedua petugas tersebut sempat ditahan dan dimintai keterangan. Namun, Yohanis menerangkan tak ada kejelasan terkait proses hukum terhadap dua petugas tersebut. 

“Walaupun kasusnya telah ditangani oleh POM TNI, Moses tidak diberi informasi tentang proses hukum perkaranya oleh pihak Penyidik atau Auditor TNI. Moses telah beberapa kali menghubungi pihak pemerintah untuk menanyakan perkembangan proses hukum perkaranya,” kata Moses.

Moses sendiri diketahui sebagai salah satu warga yang menolak pembangunan Pos TNI Satgas Pamrahwan Yonif RK 762 Fef. Pos tersebut berdiri di lahan hak ulayatnya, sementara hingga saat ini belum ada pelepasan tanah secara resmi. 

Kasus Moses menambah panjang daftar kekerasan TNI terhadap warga di Kabupaten Tambrauw. Catatan PAHAM Papua, sejak 2012 hingga 2021, setidaknya sudah ada 36 kasus kekerasan yang dilakukan anggota TNI terhadap warga. Kasus tersebar di sejumlah distrik seperti Bikar, Sausapor, Fef, Kebar, dan Kwor.