Warga Maybrat yang mengungsi. Dok. Tim Koalis Masyarakat Sipil Peduli Mengungsi Maybrat. Via Jubi

Ribuan warga di sejumlah kabupaten di Papua yang dilanda konflik harus meninggalkan rumah mereka demi keamanan. Sebagian dari mereka terpaksa merayakan Natal di pengungsian. 

Bagi Lami Faan , Natal tahun ini bakal berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Pemeluk Katolik Roma itu terpaksa merayakan Natal jauh dari rumahnya yang terletak di Faan, Distrik Aifat Timur Tengah, Maybrat, Papua Barat. 

Perempuan 35 tahun itu tengah mengungsi bersama tiga anak dan suaminya ke rumah kerabat mereka di Ayawasi, Aifat Utara. Mereka harus hengkang sejauh 40 km dari rumah karena konflik bersenjata berkecamuk  di kampung. 

Kontak senjata antara Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TPNPB) dengan aparat di Kisor, Aifat Selatan, September lalu, membuat nyawa seluruh kampung terancam. Pasca kontak senjata itu lebih dari 3000 warga Kisor dan sekitarnya mengungsi di hutan-hutan di Maybrat, hingga ke  ke kota dan kabupaten tetangga seperti Sorong, Sorong Selatan, dan Teluk Bintuni. 

Gelombang pengungsian ini juga didorong operasi penyisiran aparat ke sejumlah titik di Maybrat guna menangkap mereka yang diduga terlibat TPNPB.

Hingga kini sudah hampir empat bulan Lami mengungsi di rumah saudaranya. Mereka mengalami kesulitan mendapatkan bahan pangan. Kiriman pangan dari pemerintah daerah setempat berupa beras dan makanan kaleng tak cukup dibagi untuk para pengungsi.

Mereka pun mencari cara lain untuk memenuhi pangan, yakni berkebun. Namun sial, suami Lami mengalami kecelakaan saat berkebun. Minimnya obat-obatan menyebabkan luka menjadi infeksi. 

“Rasanya seperti tidak ada hari raya, tidak ada Natalan,” keluh Lami kepada Hakasasi.id.

Konflik antara TPNPB dengan aparat Indonesia tidak hanya terjadi di Maybrat, tapi juga melanda lima kabupaten lain, seperti Pegunungan Bintang, Intan Jaya, Yahukimo, Puncak, dan Nduga. Dewan Gereja Papua memperkirakan 60 ribu orang yang mengungsi akibat konflik tersebut.

Meski ada yang sudah bisa pulang ke rumah masing-masing, masih banyak pula yang belum. “Saudara saudara kita di daerah Yahukimo di Suru suru (Yahukimo), Nduga, Ilaga (Puncak), masih ada yang mengungsi. Mereka tidak menikmati Natal. Mereka ada dalam hutan,” kata Presiden Gereja Injili di Indonesia Pendeta Dorman Wandikbo, mengutip Jubi.

Para imam gereja Katolik Roma di tanah Papua dan Dewan Gereja Papua yang menaungi denominasi Protestan sempat ikut bersuara untuk meredakan konflik antara aparat dan TPNPB. Pasalnya, konflik bersenjata justru lebih membawa mudarat kepada warga. Para pemimpin agama pun meminta negara membuka pintu dialog bagi TPNPB.

Lami masih berharap agar suatu saat bisa kembali ke kampungnya. Baginya, hidup di pengungsian kini mengaburkan masa depan keluarganya.”Ini kan kita tidak tahu kita punya masa depan seperti apa,” kata dia.