Sejak akhir Oktober lalu, warga mengungsi ke sejumlah gereja di Sugapa untuk menghindari kontak senjata

Ribuan warga di enam kabupaten di Papua terpaksa mengungsi guna menghindari konflik.

Dewan Gereja Papua mengimbau agar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk ikut turun tangan dalam urusan  ribuan warga di sejumlah wilayah yang terpaksa mengungsi lantaran terjadi konflik.

Surat Panggilan Moral Dewan Gereja Papua ini disiarkan pada Kamis (25/11), di Jayapura dan ditandatangani empat pemuka gereja, yakni Pendeta Benny Giay, Pendeta Andrikus Mofu, Pendeta Dorman Wandikobu, dan Pendeta Socrates Yoman.

“Kami meminta Dewan untuk Urusan Hak Asasi Manusi PBB untuk datang ke Tanah Papua untuk menyaksikan secara langsung penderitaan rakyat Papua yang sudah berlangsung selama 58 tahun,” bunyi surat tersebut. 

Dewan Gereja Papua juga menyebutkan sudah ribuan warga di beberapa wilayah yang terpaksa meninggalkan rumah mereka agar terhindar dari kontak senjata yang terjadi antara aparat dengan kelompok pendukung kemerdekaan. 

Daerah-daerah tersebut di antaranya adalah Maybrat, Nduga, Intan Jaya, Pegunungan Bintang, Puncak, dan Yahukimo.

Demi menghentikan penderitaan warga, Dewan Gereja Papua meminta pemerintah untuk membuka pintu dialog dengan pihak pendukung kemerdekaan.

Konflik bersenjata antara aparat dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Papua memang memanas. Hal tersebut turut menyebabkan ribuan orang mengungsi. Yang baru terjadi adalah di Yahukimo, di mana kira-kira ratusan warga Distrik Suru-Suru meninggalkan rumah mereka ke hutan. Sejak akhir Oktober lalu, ibu kota Kabupaten Intan Jaya, Sugapa juga diketahui menjadi medan pertempuran. Ribuan warga mengungsi ke gereja-gereja setempat. Sementara dua anak turut menjadi korban akibat peristiwa kontak senjata.

Sementara itu, di Maybrat, Papua Barat, pada September lalu kurang lebih tiga ribu orang mengungsi akibat konflik antara TPNPB dengan aparat.