Theys ditemukan meninggal setelah menghadiri Peringatan Hari Pahlawan di Markas Kopassus, Jayapura. Dok. KBR.id

Kabar Drakula menghantui Jayapura di malam-malam sebelum pembunuhan Theys. Nama Andika Perkasa pun terbilang usai sidang. 

“Brakk..”

Tabrakan dua mobil di sebuah jalan dekat perumahan pegawai pemerintah di bilangan Entrop, Jayapura, Papua pada malam 10 November 2001 itu hanya mengganggu kuping seorang warga. Sebuah mobil Toyota Kijang menabrak mobil yang ditumpangi oleh pencetus Dekrit Papua Merdeka dan juga Ketua Presidium Dewan Papua, Dorotheys Hiyo Eluay.

Dua orang penumpang berbadan tegap turun, memukul sopir Theys– Aristoteles Masoka, lalu menggelandang keduanya. 

Keterangan saksi penculikan ini terekam dalam Preliminary Report Elsham Papua berjudul ‘The Abduction and Assassination of Theys Eluay Was Premeditated and Politically Motivated’ yang terbit pada Desember 2001. 

Malam itu, Theys  yang juga baru saja pulang menghadiri peringatan Hari Pahlawan di Markas Tribuana Kopassus Hamadi, Jayapura. Meski jadi tokoh sentral dalam pergerakan Papua merdeka, Theys memang dikenal bisa berhubungan dengan aparat.

Warga lain menyebutkan kondisi pos militer wilayah Koya, Jayapura terlihat lebih sibuk dari biasanya. Ia mendatangi pos itu untuk melapor karena hendak berburu namun disuruh pulang. Tentara terlihat sibuk dan pasukan Kopassus di tempat itu dalam kondisi siaga.

Saksi lain di tempat acara peringatan Hari Pahlawan yang didatangi Theys, di Markas Tribuana Kopassus melihat seorang laki-laki dibawa dengan penjagaan. Laki-laki itu sempat berteriak: “Ya ampun, kalau ada apa-apa saya harus bertanggungjawab kepada ibu. Mobil hilang, apa yang terjadi.” 

Namun belum sempat ia mendekat, seorang tentara memintanya pergi. Belakangan ia mengetahui lelaki yang berteriak itu adalah Aristoteles. Seusai peristiwa itu, tak ada lagi yang mengetahui keberadaan Aristoteles. Praktis saksi kunci pembunuhan Theys menghilang.

Saksi-saksi ini menjadi petunjuk mengungkap penculikan yang berakhir dengan pembunuhan. Theys sendiri ditemukan sudah tak bernyawa keesokan paginya. Laporan Lengkap Pengkajian Permasalahan HAM di Papua milik Komnas HAM menyebut jenazah Theys ditemukan di Koya Tengah.

Penculikan terjadi saat senyap merundung Jayapura. Desas-desus munculnya drakula membuat mereka memilih meringkuk di rumah. Kabar itu berembus di antara pedagang kaki lima dan diulas oleh Cenderawasih Pos.

Jalanan Jayapura pada malam-malam itu lebih didominasi oleh patroli gabungan tentara dan polisi. Mereka tengah menggelar operasi gabungan pada malam hari di Jayapura. 

Elsham melaporkan operasi jam malam itu diikuti personel Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan juga pasukan elit Kopassus.  Sementara itu pasukan Infantri Batalyon 751 terlibat dalam patroli gabungan. Patroli itu pun sempat membuat warga di wilayah tempat tinggal Theys tersebut takut keluar rumah di malam hari.

Sumber Elsham menyebut satu hari di akhir Oktober 2001, Kopassus menggelar pertemuan di sebuah kantor perusahaan yang terletak di Jalan Trans Irian, Jayapura. Peserta pertemuan mendiskusikan operasi jam malam di wilayah Koya Timur, Koya Tengah, dan Koya Barat dengan dalih pencarian anggota Tentara Pembebasan Nasional- Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM).

Tiga wilayah ini terletak di Selatan Kota Jayapura. Belakangan, Koya Tengah diketahui merupakan titik penemuan jenazah Theys.  

Pembunuhan Theys masih menyisakan misteri dan kontroversi. Pada 2003,  empat perwira dan tiga serdadu diadili Mahkamah Militer. Di antara yang diadili adalah Letkol Hartomo, komandan Satuan Tugas Tribuana saat peristiwa pembunuhan. Ia divonis 3,5 tahun penjara dan pemecatan. 

Tirto.id menulis Hartomo merupakan perwira dengan pangkat paling tinggi yang diadili karena terlibat kasus pembunuhan Theys. Personel dengan jabatan lebih tinggi tak pernah diadili.

Namun Tempo menyebutkan, Hartomo tak pernah dihukum dan terus mendapat kenaikan pangkat hingga mayor jenderal. Sementara dalang di balik pembunuhan juga belum terungkap.

Belakangan, muncul juga nama Andika Perkasa dalam pusaran kasus kematian Theys. Agus Zihof, ayah dari salah seorang personel TNI yang diadili juga sempat mengirim surat kepada Ryamizard Ryacudu yang sedang menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. Anak Agus mengaku dipaksa oleh Mayor Andika untuk mengakui pembunuhan Theys. Imbalannya anggota Kopassus itu bisa berkarir di Badan Intelijen Negara yang dipimpin oleh A.M. Hendropriyono, mertua Andika.

Andika sendiri merasa tak terlibat dengan pembunuhan itu. Saat menjalani fit and proper test sebagai calon panglima TNI di DPR pada Sabtu lalu (6/11) ia menyatakan siap diperiksa atas kasus pembunuhan Theys. Sayang, tak sepatah katapun keluar dari mulut anggota dewan yang terhormat yang menyinggung soal HAM dan Theys dalam forum itu.

Kini setelah 20 tahun berlalu, drakula maupun Andika di balik skenario pembunuhan Theys masih juga gelap.