Nopelinus Sondegau (2), seorang anak di Sugapa, di Intan Jaya yang menjadi korban kontak senjata anatara TNI-Polri dan TPNPB. Nopelinus tewas setelah peluru menembus perutnya. Dok. Istimewa.

Ribuan orang asli Papua (OAP) tinggal di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Hari-hari mereka jalani tanpa ketenangan. Suara peluru berdesing silih berganti menebarkan ketakutan tak berkesudahan bagi masyarakat yang tinggal di gerbang utama menuju Puncak Jaya (Piramida Cartensz) itu. 

Agus Dwi Prasetyo, Jayapura  

“Bunyi Tembakan Silih Berganti Membuat Kami Takut”

HARI mulai gelap. Jam menunjuk pukul 18.00 Waktu Indonesia Timur (WIT). Sementara suara desing peluru terdengar bersahut-sahutan di telinga Bertinus Sondegau. Dooor!!! Dooor!!! Dooor!!! Dia bergegas memerintahkan keluarganya untuk tetap berdiam diri di dalam rumah. Tak ada yang boleh ke luar. ”Semua tetap tinggal dalam rumah!!!” kata Bertinus. 

Dia ingat betul, sumber suara tembakan itu terdengar dari berbagai arah. Dari barat, timur, selatan dan utara. Entah berapa orang dan siapa saja yang terlibat dalam baku tembak itu. Namun, Bertinus amat yakin, suara peluru yang ‘menggetarkan’ tanah kelahirannya tersebut berasal dari moncong senjata aparat gabungan dan kelompok kriminal bersenjata (KKB). 

Suasana malam yang dingin di Kampung Yokatapa, Distrik Sugapa, Intan Jaya itu makin mencekam. Masyarakat yang ketakutan dengan rentetan suara tembakan tak punya pilihan. Mereka tetap berdiam diri di rumah masing-masing untuk berlindung dari peluru nyasar yang bisa kapan saja menembus rumah mereka. 

Semakin malam, bunyi tembakan makin memekakan telinga. Seolah para penembak semakin dekat. Sembari melindungi keluarganya, Bertinus sesekali menghitung berapa kali jumlah tembakan yang membelah keheningan kampungnya itu. Namun, suara tembakan begitu cepat. Sampai ia tak mampu menghitungnya. 

Tak jauh dari rumah Bertinus, bangunan Komando Rayon Militer (Koramil) Sugapa samar-samar terlihat. Jaraknya kurang lebih 50 meter. Sejauh pantauan Bertinus, bangunan yang berada di kawasan perbukitan itu disesaki aparat gabungan TNI-Polri. Lengkap dengan senjata api. Suara-suara tembakan yang menakutkan itu salah satunya berasal dari arah koramil tersebut. 

Pukul 21.00 WIT, ‘hujan’ tembakan tak kunjung reda. Bayang-bayang rasa takut ke luar rumah masih menghantui Bertinus. Di tengah ketakutan itu, Nopelinus Sondegau, anak ketiga Bertinus tak sadarkan diri. Bocah dua tahun itu memejamkan mata. Dari perutnya keluar cairan kental dan usus yang menyemburat. Nopelinus terkena tembakan. Anak laki-laki itu meregang nyawa seketika. 

Tak pelak, desingan peluru yang masih menghujam di luar rumah berbaur dengan suara tangisan beberapa orang yang berlindung di rumah Bertinus. Suasana haru jadi satu dengan rasa was-was yang tak berkesudahan. Bertinus menatap anaknya yang terkapar di pangkuan seorang perempuan. Bergegas dia membawa anaknya ke puskesmas terdekat. Tapi percuma, Nopelinus telah berpulang. 

Bersama Nopelinus, Yoakim Mazau juga menjadi korban penembakan di hari dan di lokasi yang sama. Namun, Yoakim masih bisa diselamatkan. Bocah enam tahun itu terkena tembakan di bagian punggung. Dia sempat dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika dan mendapat perawatan intensif. 

Selasa (26/10) malam itu jadi peristiwa memilukan bagi keluarga Bertinus. Namun, itu belum selesai. Rabu (27/10) keesokan harinya Bertinus dibantu warga setempat memakamkan jasad Nopelinus di kompleks Gereja Katolik Stasi St. Petrus Agapa, tak jauh dari rumahnya. Acara duka juga digelar di gereja yang berdiri di kawasan bukit tersebut. 

Sejak akhir Oktober lalu, warga mengungsi ke sejumlah gereja di Sugapa untuk menghindari kontak senjata

Belum surut duka Bertinus dan keluarga. Kontak senjata antara aparat gabungan TNI-Polri dan kelompok yang diduga bagian dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) rupanya masih berlanjut. Ketegangan di perkampungan Yokatapa, tempat Bertinus tinggal, kembali memanas. Warga pun berbondong-bondong pergi ke Gereja Katolik Petrus Agapa untuk mengungsi. 

”Di Sugapa, mayoritas rumah ditinggalkan sementara,” kata Bertinus saat diwawancara Jawa Pos melalui sambungan telepon, Jumat (29/10). Bertinus memperkirakan, ada sekitar 2.000-an warga yang mengungsi ke gereja tersebut sejak kontak senjata yang berujung hilangnya nyawa Nopelinus terjadi. ”Selain di gereja, ada juga yang ditampung di rumah-rumah warga sekitar gereja.” 

Lokasi pengungsian darurat itu bukan hanya disesaki orang asli Papua (OAP) dari kampung Yokatapa, tapi juga warga dari kampung Wandoga. Bertinus menyebut, warga di kampung lain di Sugapa juga dilaporkan mengungsi di waktu yang nyaris bersamaan. Yakni kampung Bilogai dan Kumlagupa. Mereka mengungsi di Gereja Katolik Bilogai. 

Kontak senjata berujung hilangnya nyawa masyarakat sipil dan eskalasi pengungsi di Intan Jaya sejatinya bukan kali pertama. Pada 19 September 2020 lalu, Pendeta Yeremia Zanambani tewas ditembak di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa. Mengacu temuan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Yeremia diduga ditembak oleh Wakil Danramil Hitadipa Alpius. 

”Diduga bahwa pelaku (penembakan pendeta Yeremia) adalah Alpius, Wakil Danramil Hitadipa,” ungkap Komisioner Pemantauan/Penyelidikan Komnas HAM Choirul Anam dalam konferensi pers awal November tahun lalu. 

Tokoh intelektual Intan Jaya Bartolomius Mirip menuturkan rentetan kontak senjata di tanah kelahirannya itu menyisakan tanda tanya. ”Sebenarnya ada apa di Intan Jaya?,” kata Bartolomius saat ditemui Jawa Pos di Jayapura, Kamis (28/10). Dia pun meminta masyarakat Indonesia secara luas untuk bersama-sama mencari tahu tentang akar masalah di Intan Jaya. 

Sementara Ketua Sinode Kemah Injil Gereja Masehi (KINGMI) di Tanah Papua Pendeta Benny Giay menyebut tewasnya orang-orang Papua dan meningkatnya eskalasi pengungsi akibat kontak senjata tidak bisa dianggap sebagai hal-hal yang biasa saja. ”Kalau dianggap biasa, ini berarti (ancaman) kematian satu bangsa Papua,” ujarnya kepada Jawa Pos di Jayapura. 

Dari sisi orang Papua, Benny melihat kontak senjata yang terjadi dua tahun terakhir seperti membangkitkan ‘luka’ lama. Berkaca dari sejarah, kata Benny, pendekatan militerisme di Tanah Papua saat ini sama seperti di tahun 1960-an. Kala itu, pengerahan militer Indonesia untuk merebut Irian Barat dari Belanda. ”Papua itu seperti lahan operasi militer untuk Indonesia,” tegasnya. 

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Fatia Maulidiyanti mengatakan penempatan militer di Tanah Papua memang harus dikaji ulang. Setidaknya, untuk menjawab pertanyaan apakah militer itu untuk melindungi warga dari KKB atau justru untuk menjaga konsesi tambang emas yang ada di sekitar wilayah konflik. 

”Karena kami melihat (kontak senjata di Intan Jaya) ada pola yang sama di setiap kabupaten (yang berkonflik),” terangnya. Hasil kajian KontraS bersama sejumlah organisasi non-pemerintah (NGO) sejatinya menyebut adanya irisan antara kepentingan pertambangan emas dengan penempatan militer di Intan Jaya. 

Blok Wabu. Konflik Intan Jaya (4) : Gunung Emas di Sugapa dan topografi konflik Papua (jubi.co.id)

Dalam kajian yang dirilis Agustus lalu itu menyebut bahwa ada konsesi emas di Intan Jaya yang disebut Blok Wabu. Mengacu data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), blok tersebut menyimpan potensi sumber daya 117,26 ton bijih emas dengan rata-rata kadar 2,16 gram per ton (Au) dan 1,76 gram per ton perak. 

Fatia menegaskan, Papua bukan tanah kosong. Dia meminta semua pihak, khususnya pemerintah Indonesia, untuk memperlakukan orang-orang Papua sama dengan warga lainnya. ”Kalau menghargai isi Papua, ya harusnya juga menghargai orang-orang yang tinggal di sana,” tuturnya. 

Mengutip lirik lagu Sunset di Tanah Anarki (Superman is Dead), kontak senjata di Intan Jaya ibarat desing peluru tak bertuan. Belum ada kabar dari kepolisian terkait siapa pelaku penembakan yang menewaskan anak balita tak berdosa yang tidak tahu apa-apa tentang kenapa peluru-peluru bertebaran di hari-hari yang tak benderang itu. Nopelinus Sondegau, bocah dua tahun itu meninggal di antara perang dan cinta.

Liputan ini merupakan kolaborasi Hakasasi.id dengan Jawa Pos.