Pastor Agustinus Elmas saat membacakan seruan gencatan senjata TNI-Polri dan TPNPB

Pastor senior Amandus Rahadat mengimbau baik TPN-PB dan TNI-Polri untuk berdialog. Amandus menyebut pihak yang tak mau berdialog adalah pihak yang tak punya dasar kuat untuk terlibat dalam konflik ini.

Para pastor diosesan yang bertugas di Keuskupan Timika menyerukan gencatan senjata bagi TNI-Polri dan Tentara Pembebasan Nasional Pembebasan Papua Barat (TPNPB) di Intan Jaya. Seruan gencatan senjata ini disuarakan agar warga sipil yang berada di tengah-tengah konflik tak lagi menjadi korban. 

Seruan berjudul ‘Seruan  Gencatan Senjata oleh Para Pastor Projo Gereja Katolik Keuskupan Timika Papua’ itu menyuarakan keresahan para imam akan dampak kontak senjata di ibu kota kabupaten Intan Jaya, Sugapa dan wilayah Papua lainnya yang telah menimbulkan korban dari kalangan warga sipil

“Mengingat konflik bersenjata di Kabupaten Intan Jaya yang merupakan wilayah Keuskupan Timika, dan beberapa tempat lain di Papua yang menyebabkan begitu banyak korban, termasuk anak kecil dan juga berakibat pada pengungsi masyarakat sipil dalam skala besar,” kata Pastor Agustinus Elmas yang membacakan seruan yang ditandatangani 36 pastor tersebut dalam konferensi pers virtual yang diadakan Minggu (31/10).

“Maka kami para pastor projo (diosesan)  Keuskupan Timika demi kewajiban kami untuk praktikkan Hak Asasi Manusia- berseru kepada kedua belah pihak yang sedang berperang dalam hal ini TNI-Polri-TPN OPM agar segera mengadakan gencatan senjata dan memulai dialog untuk mendatangkan damai sejahtera yang lestari,” kata Agustinus melanjutkan seruannya. 

Rangkaian kontak senjata di Sugapa, Intan Jaya terjadi sepanjang pekan terakhir Oktober lalu. Pertempuran yang terjadi di pusat kota tersebut menelan dua korban dari kalangan anak-anak. Satu balita berusia dua tahun, yakni NS meninggal setelah peluru menembus perutnya. Sementara satu anak, yakni YM menjadi korban luka tembak. Peluru yang bersarang di tubuhnya diketahui telah diangkat setelah YM menjalani proses operasi.

Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Timika Saul Wanimbo mengatakan warga sipil merupakan pihak yang paling pertama terkena dampak dari konflik senjata ini. 

Terlebih lagi, dalam konflik senjata di Intan Jaya ini kontak senjata terjadi di tengah kota, sementara pos-pos militer juga banyak berdiri di wilayah tersebut. Hal ini yang menyebabkan korban dari kalangan sipil tak terelakan. “Dua anak kecil tertembak. Persis perumahan mereka ada di dekat pos militer,” kata Saul yang juga hadir di forum pembacaan seruan para pastor tersebut.

Sementara itu, konflik senjata ini juga menimbulkan korban di pihak TNI. Serka Asep tertembak di bagian tangan, sementara peluru menembus hingga perut bagian kiri.  Asep selamat dalam kontak senjata tersebut setelah mendapat penanganan intensif. 

Pastor senior Amandus Rahadat mengimbau agar kedua pihak yakni TPNPB da TNI-Polri untuk segera duduk bersama demi menghentikan konflik bersenjata. 

“Yang tidak mau berdialog pasti dasarnya tidak kuat.  Dia takut berdialog.  Ayolah mari berdialog, di sana akan jelas siapa berada di titik kebenaran. Itu saja,” kata Amandus.