Foto. Jubi.com

PON XX yang diselenggarakan di Papua sudah selesai dengan tingkat penularan antara atlet yang mencapai angka 1,13%. Penyelenggaraan acara ini dianggap telah membahayakan warga mengingat masih kurangnya fasilitas medis disana.

Relawan LaporCovid-19, Bima Arkana, menyebutkan rumah sakit dengan status kelas B hanya ada satu. Sisanya adalah RS dengan status kelas C yang memiliki fasilitas kurang mumpuni menangani pasien Covid-19.

“Dengan terbatasnya fasilitas kesehatan di Papua, masyarakat akan sulit mendapat perawatan jika terjadi lonjakan penularan Covid-19.”  ungkap Bima kepada tim Hakasasi.id pada Sabtu (23/10)

Walaupun grafik kasus Covid-19 telah menurun, namun saat ini Indonesia masih di dalam situasi pandemi terlebih lagi di Papua yang memiliki fasilitas kesehatan yang masih kurang mumpuni. 

“Berkaca dari beberapa kegiatan olimpiade di luar Indonesia, kembali terjadi peningkatan kasus harian tepat setelah kegiatan berakhir. Ini salah satu yang menjadi pertimbangan kami (LaporCovid-19) untuk meminta PON di Papua diundur,” tambah dia

Pantauan LaporCovid-19 yang terbit pada Senin (11/10) terkait test PCR PAEI, dari 24 Kabupaten yang memiliki kasus Covid-19 hanya 6 daerah yang memiliki alat tes dengan Kota Jayapura yang terbanyak.

“Hal ini menimbulkan kekhawatiran khalayak ramai jika alat tes sulit diakses publik. Tak hanya langka, alat test PCR pun sering kali rusak.” tulis laporan tersebut.

Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) luar Jawa Bali, Airlangga Hartarto, mengatakan telah terjadi penularan Covid-19 dalam PON Papua.

“PON Papua, per 17 Oktober total kasus konfirmasi (Covid-19) adalah 176 kasus terdiri dari 97 atlet, 49 ofisial dan pelatih 7, wasit 10, kemudian dari media, panpel, juri dan keamanan,” ucap Airlangga Hartarto pada konferensi pers online Keterangan Pers Menteri terkait Hasil Ratas “Evaluasi PPKM” Senin, (18/10).

Tingkat positivity rate dalam acara tersebut mencapai 1,13% dari total atlet sebanyak 10.000 orang.

Selain itu, menyadur dari CNBC Indonesia, kasus penularan pada warga juga hanya bertambah 24 orang membuat angka kumulatif berjumlah 34.080 pada Sabtu (16/10). Dimana pada hari sebelumnya jumlah kasus baru berada pada angka 31 orang. 

Angka ini bukanlah rambu-rambu aman mengingat wilayah tempat PON diselenggarakan memiliki fasilitas tracing yang kurang mumpuni.