Sejumlah mahasiswa sedang lari ketika terjadi bentrok di Expo Waena . Dok. Jubi

Sudah dua tahun berlalu, namun Tragedi Expo Waena Berdarah belum diusut tuntas. Hakasasi.id berbicara dengan salah satu saksi yang melihat salah satu korban tewas diduga ditembak aparat.

Edy –nama sebenarnya disamarkan demi keamanan– tak pernah lupa tragedi berdarah yang disaksikan depan matanya. Salah satu temannya, Yery Murib meregang nyawa 23 September 2019 silam.

Kala itu, Edy dan Yery adalah dua mahasiswa yang ikut dalam aksi menentang rasisme di Jayapura. 

Gelombang menolak rasisme terhadap warga Papua menjalar ke sejumlah tempat, mulai Surabaya hingga Papua. Edy dan Yery merupakan mahasiswa yang turut pulang ke Bumi Cendrawasih untuk ikut aksi.

Kala itu, Edy dan Yery masuk dalam kelompok mahasiswa asal Nduga yang turut ikut aksi di depan Auditorium Universitas Negeri Cendrawasih (Uncen). Tuntutan mahasiswa saat itu ingin bertemu dengan rektor Uncen agar bisa menerima mahasiswa Papua yang eksodus. 

Hanya saja, aksi dibubarkan paksa. Ratusan mahasiswa yang menggelar aksi pun dibawa menggunakan sejumlah truk dan bus umum ke arah Taman Budaya Expo menuju ke  Museum Uncen, lokasi Posko Eksodus sementara. Jarak antara kedua tempat hanya beberapa menit berkendara. 

Edy, yang merupakan salah satu panitia keamanan, berada di bus terdepan yang sampai di area Expo Waena. Sampai di sana kerusuhan pecah, ia menyaksikan aparat menembak gas air mata. Edy dan mahasiswa lainnya sempat turun dari bus.

Gas memedihkan mata dan juga bunyi tembakan terdengar dari segala penjuru. Ketika di jalan itu Edy melihat salah satu temannya Yery Murib rubuh. “Peluru masuk di sini (tangan). masuk tembus kena ke dia punya tulang rusuk,” kata Edy kepada Hakasasi.id, Senin (18/10). 

Dia pun melihat teman lain yang berdiri di belakang tertembak di bagian kakinya. Edy yang berada di tengah keadaan berbahaya langsung pergi menjauhi Expo. “Jadi itu bagaimana caranya kita harus selamatkan diri. Penembakannya brutal,” kata Edy.

Edy tak tahu lagi bagaimana keadaan Yery selanjutnya, begitu pula temannya yang tertembak di bagian kaki. Hanya saja tak lama dari momen itu, mahasiswa yang terdesak dengan kehadiran aparat mulai menyerahkan diri. 

Lebih dari 700 peserta aksi ditahan di halaman Museum Uncen-Expo Waena sebelum akhirnya dibawa Mako Brimob Kota Jayapura. 

Belakangan diketahui ada tiga peserta aksi lainnya yang turut menjadi korban jiwa dalam hari berdarah itu. Selain Yery Murib, ada Remanus Wesareak, Ason Mujijau, dan Oter Wenda yang menjadi korban jiwa.

Setelah dilepas dari Mako Brimob keesokan harinya, Edy sempat menghadiri persemayaman Yery dan Remanus di asrama pelajar asal Nduga. 

Edy duduk di samping kedua jenazah, sementara keluarga korban turut hadir pula di asrama. Perasaan bersalah pun muncul dalam hati. Ia pun hanya bisa duduk dalam diam. 

“Hati saya gemetar. Karena mau bicara apa? Tanggung jawab moral semua-semua itu  (rasanya) yang bersalah itu saya,” kata Edy.

Hari yang dikenal dengan “Expo Waena Berdarah” telah dua tahun berlalu. Namun hingga kini proses pengusutannya mandek.

Michael, selaku penanggung jawab pelaporan korban yang namanya juga disamarkan demi keamanan, mengatakan pihaknya sempat meminta pendampingan LBH Papua. Setelah konsultasi, mereka pun melaporkan peristiwa tersebut ke Komnas HAM Perwakilan Papua pada 15 Maret 2021 lalu. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut atas laporan tersebut.

“Kami selalu terkesan dibungkam,” kata Michael.

Michael berharap kasus tersebut bisa diusut oleh Komnas HAM RI di tingkat pusat. Ia juga meminta perlindungan semua saksi yang melihat terbunuhnya empat pelajar peserta aksi.

“Yang kita butuhkan adanya tim investigasi dari Komnas Ham RI untuk kasus dugaan pelanggaran ham berat terhadap 4 korban tersebut, perlindungan saksi dan segera usut tuntas kasus Ekspo Waena berdarah ini,” kata Michael.