Herman Yosep Junago melayangkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo. Ia resah karena kampung halamannya di Rendu, NTT akan digusur untuk pembangunan Waduk Lambo. Desa itu tempat hidup warga adat Rendu, Lambo dan Ndora.

Sejak 2015 lalu warga menolak pembangunan waduk. Akan tetapi penolakan ini bukan hanya tidak dihiraukan namun juga direspon dengan intimidasi dan bahkan kekerasan. Selama ini warga sendiri sudah memberikan lokasi alternatif pembangunan, pemerintah tidak menghiraukannya dan masih ngotot membangun bendungan di kampungnya.

Berikut surat terbuka Herman kepada Presiden:

Bapak Presiden Jokowi Yang Terhormat.

Terkait rencana pembangunan waduk Lambo/Mbay di Nagekeo NTT yang berlokasi di Lowo Se Desa Rendubutowe Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo NTT, Jokowi perlu mendengar jeritan warga terdampak.

Masyarakat adat Rendu, Lambo dan Ndora yang pemukimannya potensi terkena dampak pembangunan waduk Lambo/Mbay, mereka sama sekali tidak anti pembangunan apa lagi pembangunan itu untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri dan juga untuk masyarakat Nagekeo pada umumnya. Masyarakat ketiga ulayat tersebut hanya minta agar lokasi di Lowo Se untuk rencana pembangunan waduk Lambo/Mbay  digeser ke lokasi alternatif yang telah berkali – kali mereka tawarkan. Karena bila lokasinya tetap di Lowo Se seperti yang dipilih oleh pemerentahan daerah Nagekeo dan telah pula pemda Kabupaten Nagekeo  usulkan kepada Presiden sebagai proyek penbangunan waduk Lambo/Mbay itu telah berkali – kali pula Masyarakat adat Rendu, Lambo dan Ndora dengan tegas menolaknya karena berpotensi menenggelamkan pemukiman warga ketiga ulayat, juga perkebunan, padang ternak, kegiatan adat/ritual adat masyarakat setempat, sekolah, Gereja/rumah ibadat dan yang tidak kalah penting adalah dari lahan perkebunan dan padang ternak inilah mereka bisa membiayai anak – anak mereka untuk boleh mengenyam pendidikan yang lebih tinggi di kota – kota besar negeri ini.

Masyarakat terdampak Rendu, Lambo dan Ndora telah menawarkan dua lokasi alternatif yakni Lowo Phebhu dan Malawaka.

Mengapa Lowo Phebhu atau Malawaka, karena di dua lokasi tersebut selain jauh dari pemukiman penduduk yang tentunya tidak akan mengganggu ketentraman masyarakat dan juga pilihan Lowo Phebhu atau Malawaka adalah sangat bijaksana karena  di Lowo Phebhu atau Malawaka dapat menampung air lebih cepat dan debit airnyapun banyak pula, karena dapat menampung aliran air dari berbagai anak sungai dari berbagai daerah di Nagekeo sehingga waduk Lambo/Mbay yang digadang – gadang sebagai bendungan hulu untuk memenuhi atau memperbesar ketersediaan air untuk  bendungan Sutami di Mbay akan sungguh menjadi kenyataan. 

Dengan tawaran alternatif ini, masyarakat adat Rendu, Ndora dan Lambo, tegas menolak lokasi rencana pebangunan waduk Lambo/Mbay di Lowo Se dan mendesak agar segera menghentikan segala aktifitas survey atau proses pebangunan waduk di lokasi Lowo Se.

Masyarakat juga mendesak agar aparat kepololisian resort Nagekeo tidak lagi melakukan kriminalisasi terhadap masyarakat adat yang beberapa minggu terakhir ini September 2021 dipanggil ke mapolres Nagekeo untuk mengklarifikasi atas tindakan warga yang menghadang tim survey dari BWS II NTT dan BUMN  pemenang tender pembangunan waduk Lambo/Mbay juga penghadangan terhadap aparat Brimob NTT yang mengawal tim pengukur lahan warga. Dan yang terakihir Brimob pengawal tim survey sempat memborgol seorang Ibu yang gigih mempertahan hak atas tanah tempat tinggalnya yang telah diwariskan secara turun temurun oleh Leluhur Rendu, Lambo dan Ndora.

Dan juga perlu dipertanyakan rencana pembangunan waduk ini kan sudah pernah ditolak warga pada tahun 2001 dua puluh tahun silam, di masa kepemimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri presiden Republik Indonesia waktu itu, Ibu Megawati pun mau mendengar suara rakyatnya dengan tidak melanjutkan proses survey rencana pembangunan waduk Lambo/Mbay di Lokasi Lowo Se. Warga menjadi bertanya – tanya adakah kepentingan lain sehingga para pemangku kepentingan ngotot harus di lokasi yang telah berkali – kali ditolak warga? Kalau alasan tehnik mengapa lebih memilih Lowo Se sebagai lokasi rencana pembangunan waduk Lambo/Mabay, apakah di lokasi alternatif di Lowo Phebhu atau Malawaka sudah dilakukan survey di sana dan melakukan kajian AMDAL dan tehniknya? Karena kami melihat terutama lokasi alternatif Malawaka topografinya tidak jauh berbeda dengan Lowo Se, apa lagi soal AMDALnya akan sangat baik kalau lokasi pembangunan waduk Lambo/Mbay , karena kedua lokasi alternatif yang ditawarkan warga jauh dari pemukiman penduduk.

Untuk akses ke Malawakapun akan lebih mudah dan hemat biaya, karena untuk menuju Malawaka kontraktor tinggal membuka jalan baru dari Peja Peo ( antara Jawakisa menuju Wololuba ), menyusuri belakang kampung Wololuba dan belok ke timur dengan jarak kurang lebih satu kilo meter sudah bisa mencapai titik nol Malawaka.

Bahkan perwakilan warga pernah menemui mentri PUPR pada Agustus 2017 untuk menyampaikan aspirasi penolakan pembangunan waduk dan bapak mentri PUPR pun menyampaikan kepada perwakilan warga saat itu, bahwa jangankan seratus orang yang menolak satu orang saja warga yang menolak pun pembangunan waduk itu tidak akan dilakukan.

Semoga bapak Jokowi dapat mendengar jeritan rakyat yang entah sudah beberapa kali masyarakat adat Rindu, Lambo dan Ndora berkirim surat kepada Presidennya bahkan mereka pernah mengantar suratnya sendiri ke istana negara kediaman resmi Presiden dan hanya diterima oleh staf khusus Presiden dengan alasan saat itu Presuden sedang sibuk atau padat acaranya. Sampai dengan hari ini surat – surat mereka sudah dibaca  Presidennya? Entahlah Tidak ada yang tahu.

Seyogyanya pembangunan yang utama adalah kedamaian dan ketentraman hati warga yang boleh hidup bebas tanpa bayang – bayang ketakutan atau apa pun di atas tanah tumpah darah mereka dan tidak terganggu aktifitas harian mereka sebagai petani, peternak apa lagi di musim – musim seperti begini dimana para petani desa sedang bersiap – siap mempersiapkan lahan mereka untuk menyambut musim penghujan yang akan tiba agar dapat menanami lahan – lahan mereka dengan berbagai tanaman sebagai mana kebiasaan para petani pada umumnya.

Hormati Rakyat, Jangan menzolimi kaum yang walau suara mereka lantang berteriak namun tidak mau dudengar.

Herman Yosep Junago, warga Rendubutowe yang menetap di Malang.