Mahasiswa dan praktisi hukum mengkritik perlakuan represif polisi terhadap mahasiswa di Tigaraksa, Tangerang pada Rabu (13/10). Dari video yang beredar, polisi membanting seorang mahasiswa dalam kondisi tertangkap.

“Kami menyayangkan tindak polisi terhadap mahasiswa, padahal tugas dan tanggung jawab kepolisian adalah menjaga dan mengayomi massa aksi agar tetap kondusif bukan melakukan tindakan represif yang tidak manusiawi,” ungkap Muhammad Sabilli Zamzami, koordinator lapangan kepada tim Hakasasi.id

Sejumlah mahasiswa dan pelajar menggelar aksi damai merespon tindakan bringas polisi terhadap massa aksi di Tangerang. Sekitar 50 mahasiswa yang berasal dari Universitas Trisakti, Universitas Pertamina, UAI, Blok Politik Pelajar (BPP) dan Aksi Pribumi berjalan kaki dari Simprug sampai Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri). Aksi damai ini digelar bertepatan dengan HUT ke-389 Kabupaten Tangerang.

Awalnya aksi berlangsung damai, namun di akhir aksi saat kepolisian berusaha membubarkan rombongan, salah seorang anggota kepolisian membanting salah satu peserta aksi hingga mengalami kejang-kejang. Kejadian itu terekam dalam sebuah video yang diunggah dalam akun twitter @AksiLangsung.

“Kami melihat dengan jelas kawan kami kejang-kejang. Dari video klarifikasi yang diterbitkan oleh kepolisian, dia terlihat menahan sakit,” tambah Sabilli. 

Lebih lanjut, Sabilli mengatakan jika para mahasiswa mengecam keras tindakan anggota kepolisian yang bertindak tidak sesuai prosedur keamanan dan membahayakan para demonstran. Hingga berita ini diterbitkan Billi dan teman-teman mahasiswa belum mendapatkan kabar lebih lanjut mengenai rekan mereka. 

Namun, akun instagram @brimob_id mengunggah sebuah video yang berisi pengakuan dari mahasiswa yang dibanting. Dikutip dari tribunnews.com, mahasiswa yang dibanting tersebut bernama Fariz. Ia melakukan pengakuan di video bahwa dirinya dalam kondisi baik-baik saja, pengakuan tersebut dibuat tanpa pendamping hukum.

Alvian Sabillah, praktisi hukum dari Kantor Hukum dan HAM Lokataru mengatakan tindakan yang dilakukan aparat sudah berlangsung berulang kali dan mengecam perlakuan tersebut. “Tindakan yang dilakukan anggota kepolisian terhadap mahasiswa ini tidak manusiawi dan berlebihan, padahal mahasiswa hanya melakukan aksi damai.” tutup dia.