Tim Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara II dan polisi berperalatan lengkap kembali mendatangi lokasi pembangunan Waduk Lambo, Desa Rendubutowe, NTT, Selasa (12/10). Warga kemudian menghadang rombongan tersebut agar tidak dapat melakukan kegiatan pengukuran. Mereka menduduki pintu masuk wilayah proyek pembangunan Waduk Lambo agar para petugas tidak dapat masuk.

Warga juga meminta surat perintah kepada pihak polisi. Namun, pihak kepolisian tidak memberikan surat kepada warga yang menghalangi.

“Kita hadang di jalan, minta surat izin, mereka bilang nanti. (Polisi) mau kasih yang ada di hape, kita tidak mau, kita mau surat fisik. Kita kan tidak tahu,” jelas Hermina.

Meski sudah dihalangi oleh warga, namun aparat kepolisian dan tim BWS berhasil masuk ke dalam wilayah proyek dengan melompati pagar rumah warga.

Hal yang sama juga terjadi pada Senin kemarin (11/10), warga melakukan penghadangan tetapi pihak kepolisian dan tim BWS masuk ke wilayah proyek melewati kebun warga. Pihak kepolisian sempat mengintimidasi dan mengancam akan menembak warga yang menghalangi jalan.

Hermina Mawa, warga adat Rendu meminta agar Presiden Jokowi segera menarik aparat kepolisian dari wilayahnya.

“Pak Jokowi segera tarik semua pasukan itu. Karena kami disini tidak ada teroris,” kata Hermina.

Aksi represif aparat ini sudah berlangsung sejak pekan lalu lalu. Hermina Mawa sendiri sempat diancam diborgol oleh aparat karena menghalangi petugas proyek yang datang untuk mengukur pembangunan waduk lambo.

Sejak tahun 2015 penolakan warga adat terhadap pembangunan Waduk Lambo sudah terjadi dan selalu diwarnai dengan tindakan intimidasi dan ancaman. Padahal warga sendiri sudah memberikan pilihan lokasi lain untuk dibuatkan waduk.