Sejumlah mahasiswa sedang lari ketika terjadi bentrok di Expo Waena . Dok. Jubi

Para pelajar dan mahasiswa sempat melaporkan kasus ini ke Komnas HAM Perwakilan Papua pada Maret 2021 lalu. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut atas pelaporan tersebut.

Perwakilan Posko Umum Eksodus Pelajar dan Mahasiswa Papua mengeluhkan lambannya penanganan kasus Ekspo Waena berdarah yang memakan empat korban jiwa pada 2019 lalu. Belum ada tindak lanjut pengusutan atas tragedi berdarah tersebut setelah lewat dua tahun.

Oskar Gie selaku penanggungjawab pelaporan korban aksi menentang rasisme mengatakan pihaknya sempat meminta pendampingan LBH Papua. Setelah konsultasi dengan LBH Papua, mereka pun melaporkan peristiwa tersebut ke Komnas HAM Perwakilan Papua pada 15 Maret 2021 lalu. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut atas laporan tersebut.

“Kami selalu terkesan dibungkam,” kata Oskar kepada Hakasasi.id, Senin (11/10).

Oskar berharap kasus tersebut bisa diusut oleh Komnas HAM RI di tingkat pusat. Ia juga meminta perlindungan semua saksi yang melihat terbunuhnya empat pelajar peserta aksi.

“Yang kita butuhkan adanya tim investigasi dari Komnas Ham RI untuk kasus dugaan pelanggaran ham berat terhadap 4 korban tersebut, perlindungan saksi dan segera usut tuntas kasus Ekspo Waena berdarah ini,” kata Oskar.

Tragedi Ekspo Waena berdarah merupakan peristiwa terbunuhnya empat peserta aksi mahasiswa dan pelajar yang menentang rasisme di Jayapura, akhir 2019 lalu. Empat peserta aksi itu adalah Remanus Wesareak, Yery Murib, Ason Mujijau, dan Oter Wenda. Mereka terbunuh di sekitar taman budaya Ekspo Waena

Remanus, Yery, dan Oter diketahui tewas tertembak. Sementara, Ason tewas ditikam.