Dokumentasi Warga Bojong Koneng

Warga kini hanya bisa melihat lahannya digusur. Mereka khawatir aksi penolakan berujung kriminalisasi.

Sejumlah warga Desa Bojong Koneng khawatir mengalami kriminalisasi jika terus menolak aksi penggusuran paksa yang dilakukan oleh PT. Sentul City. 

“Kami tidak bisa melakukan hal apapun dan hanya bisa melihat lahan digusur, kami takut ada upaya kriminalisasi  lagi.” ungkap Asep ketua RW 08 Desa Bojong Koneng kepada tim Hakasasi.id

Kekhawatiran Asep didasari oleh pelaporan atas sejumlah warga Desa Bojong Koneng yang dianggap provokatif, Sabtu (2/10). 

Salah satu warga yang dilaporkan adalah Ade Imon. Ade dilaporkan setelah melakukan aksi penolakan di kantor Kelurahan Bojong Koneng. Awalnya, Ade dan warga lain ingin meminta bantuan, namun setibanya di sana lurah justru pergi dan membuat warga kecewa sehingga melakukan aksi. 

“Saya dan dua saudara dilaporkan ke polisi karena dianggap provokator. Kenapa kami dilaporkan? Padahal kami mencari bantuan untuk melindungi tanah kami,” ungkap dia kepada tim Hakasasi.id

Imon mengatakan pelaporan yang menyertakan namanya memang dibatalkan setelah dirinya dan pihak desa melakukan mediasi pada Minggu (3/10). Namun, dia mengaku masih waspada jika sewaktu-waktu hal tersebut kembali terjadi.

“Setelah mediasi ada kesepakatan kalo mau diselesaikan dengan cara damai dan pak lurah mencabut laporannya, tapi entah bagaimana nanti kelanjutannya.” tambah Imon

Nafirdo Ricky, kuasa hukum Desa Bojong Koneng mengatakan jika dirinya dan tim kuasa hukum berupaya memberikan perlindungan kepada Emon dan warga yang dilaporkan. Menurut dia saat ini Imon dan warga lainnya tengah berusaha menenangkan dan mengamankan diri dari upaya kriminalisasi. 

“Saat ini mereka meminta perlindungan hukum dan kami juga berusaha untuk menghentikan tindakan sewenang-wenang PT. Sentul City yang terus memancing kemarahan warga.” tutup Firdo

Hingga Senin (4/10) PT. Sentul City masih mengabaikan larangan Pemkab Bogor dan terus mengoperasikan alat berat di atas tanah Desa Bojong Koneng, tepatnya di RW 08/RT 11. Perusahaan itu melakukan penggusuran paksa tanpa adanya kehadiran aparat berwenang.