Foto: CNN (ANTARA FOTO/JOJON)

Sudah dua tahun berlalu, namun kasus pembunuhan Yusuf dan Randi belum juga terungkap.

Aliansi Keluarga Besar Yusuf dan Randi tak akan berhenti menggelar aksi damai. Aksi damai akan terus dilancarkan selama kasus kekerasan yang menyebabkan dua mahasiswa yang terlibat dalam aksi #ReformasiDikorupsi 2019 di Kendari, Sulawesi Tenggara tersebut tak diusut tuntas.

Awal Ode, koordinator lapangan kegiatan tersebut mengatakan hingga saat ini pihaknya sudah melaksanakan aksi damai sebanyak delapan kali. Meski begitu, hingga kini kepolisian dan pemerintah terkesan enggan menyelesaikan kasus peristiwa berdarah tersebut.

“Selama dua tahun ini investigasi kasus Randi dan Yusuf seolah tenggelam, tidak ada kelanjutannya. Karena itu kami hendak melakukan aksi demokrasi jilid 9 dan kembali menyampaikan tiga tuntutan utama,” ungkap Awal kepada tim Hakasasi.id pada Kamis (30/9)

Awal mengungkap selama delapan kali pelaksanaan aksi, jawaban yang diberikan kepolisian selalu sama dan tidak menunjukan kemajuan.

“Aliansi datang untuk menyampaikan tiga tuntutan utama, yaitu mendesak polda Sulawesi Tenggara untuk menyelesaikan kasus Yusuf Randi; tidak melakukan tindakan represif terhadap aktivis dan terakhir meminta Polda Sulawesi Tenggara untuk segera merilis informasi terkait penyelidikan kasus Yusuf Rendi.” tutup dia.

Muhammad Yusuf Kardawi dan Randi merupakan dua mahasiswa yang terbunuh saat terjadi aksi protes terhadap Revisi UU KPK dua tahun lalu di Kendari, Sulawesi Tenggara. Keduanya merupakan pelajar Universitas Halu Oleo.

Hingga kini, pembunuh kedua mahasiswa tersebut belum terungkap.

Mahasiswa dari empat perguruan tinggi, yakni Universitas Halu Oleo, Universitas Muhammadiyah Kendari, Universitas Sulawesi Tenggara dan Universitas Nahdlatul Ulama, membentuk aliansi yang bertujuan untuk mengkonsolidasikan dukungan pengungkapan pembunuhan

Selain keempat pelajar empat perguruan tinggi tersebut, turut hadir pula forum-forum mahasiswa yang ikut mencari keadilan dan menuntut aparat menghentikan tindakan represif.

Senin, (27/9), aksi demo jilid 8 digelar di simpang empat Jalan Haluoleo, Kelurahan Mokuau, Kecamatan Anduonohu, Kota Kendari, Sulawesi Selatan.

Dalam aksi demokrasi tersebut, terjadi pelemparan batu oleh oknum-oknum tak dikenal yang membuat Personel Polda Sulawesi Tenggara menembakan gas air mata ke arah kerumunan mahasiswa