Tenaga medis korban korban pembakaran faskes di Distrik Kiriwok, Kabupaten Pegunungan Bintang. Foto Dok. Kompas.id

Tenaga medis di Papua terancam menyusul kontak senjata terjadi di fasilitas kesehatan. 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Papua mendesak pemerintah melindungi tenaga medis yang bertugas di Papua. Seruan ini disampaikan organisasi tersebut setelah terjadi pembakaran fasilitas kesehatan oleh kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang yang berujung pada meninggalnya seorang tenaga medis.

Ketua IDI Papua, Donald Aronggear, mengimbau pemerintah daerah, aparat, dan lintas elemen masyarakat bisa menjaga tenaga kesehatan yang bertugas.

“Kami juga berharap kejadian serupa tidak lagi berulang sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan dengan tenang tanpa ada tekanan maupun rasa takut,” kata Donald melalui keterangan pers yang diperoleh Hakasasi.id, Jumat (17/9).

Ia mengatakan keberadaan tenaga medis di masa pandemi ini begitu penting, agar pelayanan kesehatan bisa lancar.

“Berkurangnya tenaga kesehatan medis di wilayah manapun di Papua terutama di wilayah pedalaman, akan sangat berdampak terhadap masyarakat Papua terutama yang sedang membutuhkan bantuan kesehatan, terutama di tengah situasi pandemi saat ini,” seperti tertulis dalam pernyataan tersebut.

Pembakaran faskes ini merupakan bagian dari penyerangan yang dilakukan TPNPB terhadap Distrik Kiriwok, Senin (13/9). Selain faskes, kelompok tersebut juga membakar sekolah, bank, dan pasar.

Menurut laporan Tempo,  penyerangan puskesmas membuat para tenaga medis panik dan melarikan diri ke hutan. Di dalam hutan mereka berpencar.

Setidaknya ada tiga korban dari kalangan  tenaga medis. Satu orang yakni Gabriella Meilani diketahui meninggal dunia di sekitar sebuah jurang. Satu orang menderita luka, yakni Kristina Sampe, sementara satu lagi yakni Gerald Sokoy masih dinyatakan hilang.

Sebanyak 250 tenaga medis pun pada Kamis (16/9) menggelar aksi jalan kaki dan menyalakan lilin di Ibukota Pegunungan Bintang, Oksibil, sebagai tanda duka cita meninggalnya Gabriella. 

Sementara itu, kelompok TPNPB pimpinan Lamek Taplo mengakui penyerangan tersebut.