Semua peserta ‘Lomba Mural Dibungkam’ yang diselenggarakan Gejayan Memanggil diumumkan sebagai pemenang. Panitia menyeleksi lebih dari 100 karya mural yang berisi kritik terhadap represi aparat.

Pengumuman pemenang ‘Lomba Mural Dibungkam’ dilakukan bertepatan dengan Hari Demokrasi Nasional yang jatuh pada Rabu lalu (15/9). Panitia memutuskan sekitar lebih dari 100 pengirim hasil mural sebagai pemenang.

“Kami menganggap semua peserta adalah pemenang. Ada penyerahan simbolis penghargaan berupa piagam terhadap tembok-tembok yang punya peristiwa yang ingin diabadikan juga oleh teman-teman street art Yogyakarta,” tulis mimin muralis melalui akun instagramnya.

Para pemenang mendapatkan piagam yang diserahkan secara simbolis pada karya yang dibuat di tembok Jembatan Kewek dan di daerah Tukangan, Kota Yogyakarta.

Piagam Pemenang

Sebelumnya panitia membagi peserta dalam berbagai kategori seperti kecepatan mural dihapus, faktor lokasi yang strategis juga menjadi syarat penentu lain untuk menentukan pemenang dari Lomba Mural Dibungkam.

Panitia menetapkan pemenang lomba mural dibagi atas 14 kategori, yaitu kategori paling memanggil, paling nekat, paling bisaan, paling misterius, paling teatrikal, paling romantis, paling berwarna, paling strategis, paling nyentil, paling suka begadang, paling mengusik, paling favorit, paling hits, dan paling keras kepala.

Terdapat 17 nama pemenang yang masuk ke dalam kategori teatrikal. Sedangkan untuk menentukan kategori favorit mimin muralis memerlukan diskusi panjang

Selain membagikan piagam, Gejayan Memanggil juga membagi rata hadiah kepada para peserta. Hadiah merupakan hibahan dari para donatur yang berupa sembako, buku, baju, meja hingga kikil sapi.

“Tawaran hadiah ini berasal dari berbagai kota, di antaranya Yogyakarta, Tangerang, Purworejo, Salatiga hingga Denpasar.” tutup dia

Lomba Mural Dibungkam diadakan untuk menyindir aparat kepolisian dan pemerintah daerah yang kelewat responsif dalam merespon mural-mural yang bermuatan kritik kepada pemerintah.

Bermula saat aparat menghapus mural “404 Not Found” yang diduga mirip dengan Presiden Joko Widodo di Batuceper, Kota Tangerang. Selain menghapus, aparat juga memburu para pembuat mural.

Aksi ini menjadi bentuk perlawanan masyarakat sipil terhadap pembungkaman yang mencoreng wajah demokrasi Indonesia.