Tepat 17 tahun lalu Munir Said Thalib tewas di udara. Hingga kini dalang pembunuhannya belum juga terkuak.

Janji pemerintahan Joko Widodo pada 2016 yang ingin mengusut kasus Munir masih menggantung. Ditambah lagi dokumen yang berisi hasil penyelidikan kasus ini malah dinyatakan hilang. 

Penyelidikan kasus pembunuhan ini mandek. Bahkan, kasus Munir kini terancam kadaluarsa jika tidak ada tuntutan dan mengubah kasus ini menjadi kasus pelanggaran HAM berat. Saat ini, kasus pembunuhan Munir masih masuk ke dalam kategori pembunuhan berencana biasa.

Berikut adalah rangkaian perjalanan Munir sebelum tewas diracun saat hendak melanjutkan studi ke Belanda. 

Sosok Munir Said Thalib

Munir, lahir di Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965. Dia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara dari pasangan Said Thalib dan Jamilah. Munir tumbuh dan menaruh minat pada bidang hukum. Ia mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya. 

Di kampus inilah Munir mulai aktif dalam kegiatan sosial. Semasa kuliah, Munir dikenal sebagai seorang aktivis kampus yang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum pada tahun 1998. 

Selepas kelulusannya, Munir menjadi anggota LBH lalu menjabat sebagai ketua LBH Surabaya. Selanjutnya, Munir hijrah ke Jakarta dan menjadi Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI (1997) dan Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998). 

Munir lalu mendirikan dan menjabat sebagai Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) sejak 1998 – 2001 dan menjadi Ketua Dewan Pengurus Kontras pada 2001. 

Kontribusi dan keseriusan Munir dalam penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM semakin terlihat saat dirinya mulai melakukan advokasi kepada korban kasus HAM. Munir sempat menjadi penasehat hukum korban dan keluarga korban penghilangan orang secara paksa terhadap 34 aktivis politik dan mahasiswa di Jakarta (1997 – 1998)

Dilansir dari Tirto, Munir pernah menjadi penasehat hukum korban tragedi Tanjung Priok (1984-1998), pembunuhan aktivis buruh Marsinah (1994), dan menangani kasus Araujo yang dituduh sebagai pemberontak yang melawan Pemerintah Indonesia untuk memerdekakan Timor Timur.

Munir adalah Voice of Voiceless yang berani dan terus menyampaikan kritik dan mencari keadilan bagi korban dari kasus pelanggaran HAM. Perjuangannya tidak pernah meredam, meskipun suaranya dibungkam, hingga raganya tiada. 

Foto: IDNtimes

Berangkat Studi Berujung Mati

Pada Senin, 6 September 2004 pukul 21.55 WIB Munir terbang dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda dengan pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-974 di kursi nomor 40G. 

Tujuan keberangkatan Munir adalah  melanjutkan pendidikan S2 bidang Hukum Humaniter di Universitas Utrecht. Sayangnya, dua jam sebelum mendarat di Negara Kincir Angin, Munir menghembuskan nafas terakhirnya di atas wilayah Rumania. 

Sebelumnya saat pesawat mendarat di  Bandara Changi, Singapura, Munir menenggak jus jeruk yang diduga membuatnya mondar-mandir untuk muntah dan buang air. 

Dalam kondisi kesakitan, Munir meminta pertolongan kepada awak pesawat yang kemudian mencari pertolongan dan menemukan Dokter Tarmizi, seorang ahli jantung. Munir sempat mendapatkan pertolongan tetapi nyawanya tidak bisa diselamatkan dan aktivis HAM ini pergi untuk selama-lamanya. 

Setibanya di Belanda, jenazah Munir diotopsi dan ditemukan adanya racun arsenik di dalam tubuhnya. Kepolisian Republik Indonesia lalu melakukan penyelidikan dan menetapkan pilot Garuda Indonesia, Pollycarpus Budihari Priyanto dan mantan Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN), Muchdi Prawiro Pranjono atau Muchdi PR sebagai tersangka. 

Sayangnya, vonis hukuman yang didapatkan oleh keduanya berbeda. Pollycarpus awalnya dituntut 20 tahun penjara dan mengajukan banding ke MA sehingga masa tahanannya dipotong menjadi 14 tahun.

Pada tahun 2008, Muchdi PR dibebaskan karena dianggap tidak terlibat dalam pembunuhan Munir. Padahal Muchdi dianggap sebagai otak dari pembunuhan Munir karena memiliki dendam kepada Munir yang membongkar kasus penculikan aktivis reformasi. 

Hingga Masyarakat sipil bersama-sama menuntut keadilan dan janji Jokowi untuk segera menuntaskan kasus kematian Munir.