Dua anggota TNI memilih menyiksa anak di bawah umur daripada melapor ke polisi untuk mencari hilangnya sebuah telepon genggam. 

Iswardi Lay masih ingat luka berbentuk garis-garis yang membekas di pipi kanan Petrus Sekuk, pada 21 Agustus 2021 lalu. Luka itu merupakan jejak kekerasan oleh anggota TNI terhadap Petrus Sekuk. Ia disiksa dua tentara yang menginterogasinya. Petrus dituduh mencuri ponsel. 

“Di bagian kanan pipinya itu ada kena sapu lidi,” kata rohaniwan dan juga tokoh masyarakat di Rote N’dao, Nusa Tenggara Timur tersebut saat tampil di Knalpot edisi ‘Oknum Tentara Aniaya Bocah 13 Tahun, Haris Azhar: Ini Tidak Manusiawi’, yang tayang pada 30 Agustus 2021.

Petrus Sekuk, bocah 13 tahun tersebut ditemui Iswardi di Rumah Sakit Umum Daerah Ba’a, Rote. Dua hari sebelumnya, Petrus disiksa dua anggota TNI di rumahnya karena tuduhan mencuri ponsel salah satu anggota tersebut.

Tidak hanya bekas pukulan sapu di kepala, Iswardi juga melihat luka akibat sundutan rokok di punggung Petrus. Tamparan pun juga diberikan oleh tentara yang datang ke rumahnya tersebut. Siksaan tersebut sempat membuat Petrus tak sadarkan diri hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit oleh salah seorang kerabatnya. 

Tuduhan pencurian ponsel tak terbukti hingga saat ini, meski pengakuan dari Petrus sendiri sempat berubah-ubah. Iswardi menduga bocah itu trauma akibat penyiksaan.

“Memang dari jawaban ibu dari Petrus ataupun pengakuan yang disampaikan keluarga korban Petrus sempat menyahut bahwa dia mengambil handphone itu.Tapi dugaan kami dan juga diyakinkan oleh keluarga bahwa memang bahwa dia sudah dapat pukul, jadi dia takut, jadi dia menyahut. Jadi beberapa kali berpindah tempat (ponsel) tidak ketemu,” kata Iswardi.

Pihak TNI sempat melakukan perjanjian damai dengan keluarga. Mereka pun kini diketahui akan memproses kedua anggota TNI itu secara hukum. 

Pendiri Lokataru Foundation, Haris Azhar, mengapresiasi tindakan yang diambil TNI. Hanya saja, praktik penyiksaan ini bukan praktik terpuji yang boleh dilakukan aparat. Ia menjelaskan apa yang dialami Petrus merupakan upaya mencari pengakuan dengan kekerasan yang tidak seimbang.

“Melakukan satu rangkaian penindakan untuk mencari keterangan terhadap Petrus, yang menurut saya ini tidak fair, bahwa anak di bawah umur, dan kasusnya pidana harusnya ditangani oleh polisi, bukan dengan penyiksaan untuk mencari keterangan,” kata Haris.

Haris mengatakan ada dua pekerjaan yang tersisa bagi TNI terkait kasus ini: “Masih ada yang harus diproses bagaimana menghukum pelaku atas praktik penyiksaannya dan yang kedua memulihkan kondisi si anak.”