Proyek pembangunan Waduk Lambo di Kabupaten Nagekeo, NTT, terus mengusik masyarakat adat disana. Setelah intimidasi aparat tak mempan meredam penolakan, kini kontraktor proyek pembangunan mengendap-endap masuk masuk ke lokasi proyek pembangunan waduk itu.

Hermina Mawa, seorang aktivis masyarakat adat Rendu, mengatakan beberapa orang yang datang ke desanya pada tanggal 11 Agustus dengan dalih pergi ke kantor desa. Namun, ternyata mobil-mobil tersebut malah berhenti di pintu masuk proyek pembangunan. Akhirnya warga pun mengusir mereka dari lokasi proyek.

Selanjutnya pada Minggu lalu (22/8), kontraktor proyek datang diam-diam ke lokasi pembangunan waduk saat warga sedang tidak melakukan kegiatan karena beribadah.

Tindak-tanduk ini membuat warga melakukan aksi di depan pintu masuk lokasi proyek Waduk Lambo pada Senin (23/8). Mereka menuntut agar Presiden Jokowi mendengar suara masyarakat adat Nagekeo dan menutup proyek waduk tersebut dan pindah ke lokasi yang sudah direkomendasikan oleh warga adat.

orasi masyarakat adat di depan pintu gerbang proyek

Sejak 2015 lalu warga adat disana, termasuk Rendu, menolak pembangunan waduk ini karena lokasi waduk berada di pemukiman warga, ada fasilitas umum, serta merupakan lahan pertanian produktif. Selain itu kan menenggelamkan tempat pelaksanaan ritual adat dan kuburan nenek moyang. 

“Kami tidak menolak pembangunan hanya lokasinya saja yang kami tolak,” ucap Mawa saat dihubungi hakasasi.id (25/8).

Warga sendiri telah mengajukan keberatan soal pembangunan pada April lalu. Mereka juga sudah menyarankan agar waduk dibangun di lokasi lain, yakni Malawaka dan Lowo Pebhu. 

Namun bukannya usul ini didengar, warga justru mengalami berbagai intimidasi seperti pemanggilan tanpa sebab oleh polisi, bahkan sampai didatangi sepasukan kepolisian. 

Sebelumnya, warga Nagekeo dijanjikan bahwa BPN akan mengosongkan area lokasi pembangunan dan menyampaikan keberatan warga di DPR.