Foto: Katadata

Tukang sayur menjadi orang pertama yang menjajal kelak-kelok Sirkuit Mandalika di Nusa Tenggara Barat. Sirkuit dengan kualitas aspal arena MotoGP itu melintang di jalur akses warga. Tak ayal warga dan tukang sayur memilih nyelonong di daripada mengambil jalur memutar yang lumayan jauh. 

Salah satu warga sekitar sirkuit, Sibawaih, mengaku merasa terganggu setelah adanya pembangunan sirkuit Mandalika. Meski berada di luar lingkar, ia merasa terhambat jika ingin melakukan aktivitasnya sehari-hari.

“Saya terisolir karena di pinggir pantai, timurnya gunung, baratnya muara, utaranya sirkuit, selatannya laut,” kata Sibawaih

Lelaki berumur 54 tahun ini tinggal di wilayah pantai Serenting di sebelah selatan sirkuit. Dulu akses dari desa ke tempat umum seperti pasar dan sekolah relatif mudah. Ia biasa pergi ke Kota Kuta di Lombok dalam waktu cepat. 

Sejak ada sirkuit seharusnya ia berjalan memutar namun ia nekat melintas di dalam sirkuit. Maklum perjalanan dilakukan rutin untuk ke pasar atau mengantar anak sekolah. Bahkan untuk beribadah pun ia harus melintas ke sirkuit. 

Wilayah desanya tidak bisa mendapatkan akses apapun kecuali pergi ke utara yang otomatis melintasi wilayah sirkuit.

“Bukan pernah lagi, kalau saya ada kegiatan di luar ya setiap hari saya lewat sirkuit,” Sibawaih terkekeh.

Jarak antara Pantai Serenting dengan Kota Kuta

Dilihat dari Google Maps, situasi tempat tinggal Sibawaih memang terisolir, wilayah Pantai Serinting yang berada di selatan sirkuit sangat jauh dengan pusat-pusat pemukiman seperti di jalan Sengkol di utara sirkuit maupun Kota Kuta di sebelah barat.

Google maps tidak menunjukkan rute yang mengharuskan warga untuk melewati sirkuit. Kenyataannya rute di google maps menuju kota Kuta harus melewati Jembatan Putri Mandalika yang khusus dibuat untuk tamu-tamu hotel. 

Foto: CNN

Lokasi Jembatan Putri Mandalika

Kesaksian Sibawaih menyebutkan jembatan tersebut juga dinilai warga sekitar tidak layak untuk dipakai menyeberang kendaraan karena merupakan jembatan sementara. Warga pun terpaksa harus berjalan menggunakan jalur sirkuit untuk berpergian ke kota.

Pemerintah tidak memberikan akses bagi warga sekitar. Ia merasa kecewa dan menganggap pemerintah tidak siap dalam memenuhi kebutuhan warga sekitar sirkuit Mandalika, khususnya soal akses.

Meski demikian, Sibawaih mengaku dirinya masih beruntung jika dibandingkan dengan warga yang tinggal di dalam lingkar sirkuit. Warga diberi akses berupa terowongan yang menghubungkan dengan akses keluar. Pengembang Mandalika, PT Indonesia Tourism Development Forum (ITDC) memberikan dua akses dua jalan terowongan. Namun akses itu tak layak, hanya dapat dilewati motor dan juga tidak dapat dilewati jika kebanjiran air laut.

“Adakala dalam lintasan ini jika penyedot air mesinnya mati, akan muncul air di terowongan itu,” jelas Sibawaih.

Mengutip dari Mandalika Post, sebanyak ratusan warga terisolir di dalam kawasan sirkuit Mandalika. Warga pun kini tengah menuntut agar direktur ITDC diganti karena diduga telah sengaja mengisolasi dan membatasi hak hidup, kesehatan dan pendidikan warga.